Eropa

Prancis Bekukan Aset-Aset Rusia Terkait Kasus Yukos

Salafynews.com, MOSKOW Prancis telah membekukan sejumlah aset milik pemerintah Rusia termasuk sejumlah akun rekening bank dan real-estate sebagai balasan atas penolakan Moskow untuk berkompromi membayar denda miliaran juta dolar sebagai kompensasi kasus perusahaan minyak Yukos.

“Ini adalah sejumlah rekening bank dan real-estate,” ungkap Tim Osborne, direktur GML, pemegang utama saham Yukos yang sebelumnya bernama kelompok Menatep itu pada hari Kamis (18/6).

Mikhail Khodorkovsky

Mikhail Khodorkovsky

Ia menambahkan bahwa sekitar 40 rekening bank telah dibekukan bersama sekitar 8 atau 9 gedung. Obsorne juga mengatakan bahwa sebenarnya pembekuan itu sudah terjadi dua minggu yang lalu, namun pemerintah Rusia baru mempublikasikannya hari Kamis kemarin.

“Proses ini juga tengah berlangsung di Inggris dan AS, negara-negara lain akan mengikti,” ucapnya.

Sementara itu, Mikhail Zadornov, kepala anak cabang bank terbesar kedua Rusia VTB di Perancis, mengatakan kepada jaringan berita tv Rossiya 24 bahwa rekening perusahaan Rusia di anak perusahaan VTB Perancis dibekukan pada hari Rabu. Rekening diplomatik juga sempat dibekukan  tapi kemudian dibuka kembali.

rusia_perancis

Rusia dan Prancis

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa Moskow dan tim pengacaranya akan memperhatikan penyelesaian masalah ini.

“Kami saat ini dalam sikap sangat hati-hati meninjau semua hal yang menyangkut klaim ini,” ungkap Peskov.

Langkah Prancis ini mengikuti langkah Belgia dimana para pejabatnya membekukan aset-aset  Rusia untuk memastikan pembayaran kepada pemegang saham Yukos.

Yukos adalah perusahaan minyak swasta terbesar Rusia yang pemilik utamanya, Mikhail Khodorkovsky, ditahan tahun 2003 dan menghabiskan waktu satu dekade di penjara atas tuduhan penggelapan dan penghindaran pajak. Ia kemudian menjadi warga negara  Swiss setelah dibebaskan pada tahun 2013.

Gugatan terhadap Moskow ke Mahkamah Arbitrase diajukan tahun 2005 oleh beberapa perusahaan pemilik saham Yukos, dan Dana Pensiun Pekerja yang bergabung di GML.

Penggugat tadinya menuntut pembayaran ganti rugi senilai 100 miliar dolar karena merasa sahamnya disita negara.

Mahkamah Arbitrase di Den Haag kemudian menilai, pemerintah Rusia sengaja memaksa Yukos bangkrut dengan klaim pajak secara berlebihan, lalu menjual saham-sahamnya kepada perusahaan negara. Tindakan itu dianggap berlatar belakang politis.

Pada Juli 2014, Pemerintah Rusia mengalami kekalahan besar di Mahkamah Arbitrase Den Haag. Pengadilan memutuskan Rusia harus membayar ganti rugi 50 miliar US$ kepada pemilik saham Yukos.

Inilah vonis ganti rugi tertinggi yang pernah dijatuhkan oleh Mahkamah Arbitrase di Den Haag. Pengadilan itu dalam keputusannya hari Senin 28 Juli 2014  menuntut Rusia untuk membayar ganti rugi dalam kasus Yukos, perusahaan minyak swasta terbesar Rusia yang dikatakan disita oleh  negara.

Pemerintah Rusia segera bereaksi dan menerangkan tidak bisa menerima keputusan itu.

“Rusia akan menggunakan segala opsi hukum untuk mempertahankan posisinya”, kata Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov tak lama setelah sangsi dijatuhkan. (LM/presstv/dw)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: