Artikel

Prof Sumanto Al Qurtuby: Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (2)

“Punahnya bahasa berarti lenyapnya identitas sebuah bangsa”

20 Februari 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tulisan lanjutan dari Prof Sumanto Al Qurtuby: Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab. (Baca: Prof Sumanto Al Qurtuby: Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab)

Wejangan Gus Dur

Sebuah simposium akbar tentang pentingnya menjaga dan merawat Bahasa Arab digelar di Qatar, tetangga Saudi. Simposium ini diselenggarakan oleh “Forum Kebangkitan Bahasa Arab” dan disponsori oleh World Organization for Renaissance of Arabic Language (WORAL) dan Qatar Foundation. Forum ini melibatkan lebih dari 300 peneliti dan tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang keilmuan: pendidik, jurnalis, birokrat, pengusaha, dlsb. Ketua Dewan Penasehat WORAL Abdul Aziz bin Abdullah Al-Subaie menekankan tentang pentingnya pendidikan Bahasa Arab bagi anak-anak. Sementara Syaikha Moza Binti Nasser, Kepala Qatar Foundation for Education, Science and Community Development meminta semua pihak untuk bersatu menggalakkan, mengembangkan, dan memasyarakatkan Bahasa Arab standar agar tidak punah di kemudian hari.

Syaikha Moza juga menegaskan bahwa punahnya bahasa berarti lenyapnya identitas sebuah bangsa. (Baca: Prof Sumanto Al Qurtuby: Cintailah Bangsa Sendiri Bukan Mencintai Bangsa Lain)

Dunia Arab dewasa ini memang sedang dihadapkan pada persoalan pelik dan ancaman punahnya Bahasa Arab standar dan Bahasa Arab klasik. Ada beberapa faktor yang menyebabkan “terpuruknya” Bahasa Arab standar ini. Pertama, masyarakat Arab kontemporer lebih menyukai “Bahasa Arab gaul” atau bahasa/dialek colloquial (ammiyah), yakni Bahasa Arab informal yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari, ketimbang Bahasa Arab standar yang baku. Penggunaan “Bahasa Arab gaul” ini tidak hanya dalam komunikasi sehari-hari tetapi juga di media, sekolah-sekolah, televisi dlsb. Maraknya penggunaan Bahasa Arab gaul ini menyebabkan Bahasa Arab standar dan baku yang sesuai dengan kaedah tata-bahasa (nahwu-sharaf) menjadi terasing dan termarjilankan. (Baca: “Hasutan Sektarian” Modal Media Radikal dan Wahabi)

Jika Bahasa Arab standar modern saja tergerus dari masyarakat apalagi Bahasa Arab klasik atau fushah yang digunakan dalam Al-Qur’an, teks-teks/kitab klasik keislaman, berbagai ibadah atau ritual keagamaan, syi’ir dlsb. Bahasa Arab fushah ini semakin langka dan “antik” dan nyaris tidak pernah dipakai dalam literatur keilmuan apalagi dalam kehidupan sehari-hari sehingga macet dan terancam tenggelam terkubur dalam limbo sejarah, dan penguburnya adalah masyarakat Arab sendiri. “Murid senior” saya dari Madinah, Ali Muhammad Al-Harbi bahkan mengatakan masyarakat Arab modern (selain “komunitas literati” dan “kaum agamawan” tentunya)–apalagi anak-anak, remaja, dan pemuda–bahkan banyak yang tidak paham dengan Bahasa Arab fushah ini. Sambil berkelakar ia mengatakan, “Bahasa Arab fushah ini seperti ‘bahasa mahluk alien’ saja sekarang ini yang semakin hari semakin asing, klasik, dan antik…” Bersambung… (SFA)

Sumber: Akun Facebook Prof Sumanto Al Qurtuby

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Prof Sumanto Al Qurtuby: Arab Menjadi Barat, Indonesia Menjadi Arab (3) | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: