Artikel

Prof Sumanto Al-Qurtuby: Sistem Khilafah Itu Sekuler Bukan Religius

31 Maret 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Para pengusung dan pengecer sistem politik-pemerintahan khilafah seperti Huzbut Tahrir selalu mengklaim bahwa sistem dan konsep khilafah adalah religius, bukan sekuler seperti demokrasi, “made-in” Tuhan bukan produk manusia, berdasar Al-Qur’an yang suci bukan buku-buku yang profan. Ingat baik-baik “semua itu hanyalah klaim belaka tidak lebih dari “propaganda politik”. (Baca: Inilah Misteri Kelompok Khilafah Anti NKRI Serang Densus 88 dan NU)

Tidak ada ideologi politik dan sistem pemerintahan di dunia ini yang “religius”. Semuanya sekuler karena hasil dari pemikiran dan interpretasi manusia. Baik teokrasi, demokrasi, teo-demokrasi, komunisme, Pancasila, Negara Islam, khilafah, dlsb semuanya adalah produk kebudayaan manusia yang profan, bukan ciptaan Tuhan yang sakral. Tuhan jelas tidak mengurusi sistem politik-ekonomi-pemerintahan. Dia juga tidak menggubris aneka ideologi. Al-Qur’an dan kitab keagamaan bukan berbicara sebuah sistem yang baku melainkan hanya prinsip-prinsip fundamental-universal kemanusiaan yang sangat fleksibel atau tentang “etika berpolitik” dan bermasyarakat. (Baca: Kelompok Pro Khilafah Wahabi Anti NKRI Lebih Bahaya daripada Candaan Zaskia Gothik)

Jika ada juklak dan juknis tentang “Negara Islam” atau “Khilafah” dalam Al-Qur’an, tentunya Nabi Muhammad dan para sahabat akan mempraktekkan ini. Kenyataannya tidak. Keempat sahabat pengganti Nabi Muhammad (Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali) menggunakan aneka-ragam sistem politik-pemerintahan dan mekanisme pemilihan pemimpin yang berlainan (ada yang via penunjukan, musyawarah, komite pemilihan, dll). Sistem politik-pemerintahan model khilafah sendiri kan baru lahir sekitar 661 M setelah melalui perang sipil antar-umat Islam yang sangat memilukan. Pendiri Daulah Umayyah, Muawiyah Bin Abu Sofyan adalah seorang “warlord” yang sangat kejam. (Baca: WASPADALAH.. Pengajian ‘Setan’ Kelompok Khilafah HTI dan Wahabi)

Jika argumen bahwa khilafah itu adalah sistem politik-pemerintahan islami karena “didukung” Al-Qur’an, maka ideologi politik-ekonomi dan sistem pemerintahan yang lain seperti demokrasi juga mendapat “restu” Al-Qur’an karena banyak ayat-ayat yang berbicara tentang pentingnya musyawarah dan kedaulatan rakyat. Al-Qur’an juga berbicara tentang larangan memonopoli peredaran kekayaan dan distribusi sumber-sumber ekonomi pada orang dan kelompok tertentu saja tetapi harus merata. Prinsip ini kan sebetulnya sangat “Marxis-Komunis”.

Jadi para cheerleaders sistem Khilafah, hentikanlah klaim-klaim dan omong-kosong kalian. Apa yang selama ini kalian lakukan hanyalah bentuk “pembodohan publik” yang sangat tidak mendidik dan tidak mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. (SFA)

Sumber; Akun Facebook Prof Sumanto Al-Qurtuby

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: