Nasional

Renungan Ramadhan A GIFT FROM GOD

Salafynews.com, JAKARTA – Banyak dari kita yang menjalani bulan Ramadhan ini tanpa ada pengetahuan mendasar tentangnya, sehingga ia hanya melakukan hal-hal mendasar seperti puasa, tarawih dan zakat fitrah.

Jadi wajar saja, ketika ia berbuka ia menjadi kalap dalam melahap makanan dan seperti merasa menjadi orang merdeka setelahnya.

Ada lagi yang menganggap puasa dan zakat itu sebagai sebuah ritual saja. Perbuatan maksiatnya sama sekali tidak berkurang bahkan makin rakus. Karena selalu terpikir bahwa ia harus pulang kampung dgn kemewahan dan harus ada yang di pamerkan nantinya, maka ia semakin sibuk “menyulap” uang yang sama sekali bukan hak-nya. Zakat hanyalah formalitas, tanpa ada hati di dalamnya. Hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja.

Ramadhan adalah sebuah ritual. Ia menjadi bulan budaya. Puasa adalah kewajiban, tiidak ada yang lebih dari itu. Malah celakanya, banyak yang malah minta puasanya di hormati, seakan-akan ia berpuasa untuk orang lain.

marhabanyaramadhanSeandainya mereka tahu, Ramadhan jauh lebih suci dari banyaknya persangkaan manusia. Ia datang sebagai bantuan dari Tuhan untuk mengikis dosa-dosa manusia.

Ramadhan adalah taman firdaus. Ia berisi pohon-pohin yang berbuah lebat yang bisa kita petik yang disediakan Tuhan untuk hamba-Nya. Semua buah yang ada adalah pahala. Bahkan kita tidur di dalamnya pun dihitung sebagai badah. Menakjubkan, bukan ?

Jika tidur di dalamnya saja ibadah, lalu apa yang akan terjadi ketika kita berlomba-lomba memetik buahnya ?

Lihatlah deretan buahnya, mulai dari puasa, berkata baik sampai shalat malam Ramadhan. Semua mengandung pahala sesuai kapasitasnya. Ada buah yang “berhadiah” seperti berhaji dan umrah 1000 kali. Ada buah yang akan menerangkan kubur kita nantinya sampai buah yang akan menjadikan sakratul maut kita begitu indah tanpa rasa sakit dan ketakutan yang sangat. Semua buahnya adalah nikmat.

Adanya puasa adalah bagian dari membersihkan diri supaya bisa menikmati buah-buah di taman itu. Disitulah pentingnya puasa, karena ia – seharusnya – membersihkan jiwa, bukan hanya kewajiban menahan lapar dan haus.

Ah, tidak sanggup rasanya membicarakan betapa dahsyatnya bulan penuh fasilitas ini, yang menunjukkan betapa sayangnya Tuhan kepada kita. Tidak akan dibiarkan hamba-Nya masuk neraka begitu saja, tanpa pernah memberikan mereka kesempatan untuk menuju surga-Nya.

Dan sungguh rugi mereka yang dalam bulan ini melakukan perbuatan sia-sia, hanya lapar dan haus saja tanpa kekuatan utk membersihkan jiwanya.

Begitulah kenapa ia dinamakan Ramadhan. Pahami ini, maka kita akan dengan semangat memetik buahnya dengan semaksimal kemampuan kita meraihnya.

“Mengapa dinamakan Ramadhan ?” Rasulullah Saw berkata, “Sesungguhnya bulan Ramadhan dinamakan Ramadhan sebab ia melelehkan dosa-dosa”. [Kanz al-‘Ummal, H 23688] (SFA/DS/MM)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: