Asia

Rodrigo Duterte ‘The Punisher’ Sang Pemburu Bandar Narkoba

Minggu, 07 Agustus 2016,

SALAFYNEWS.COM, FILIPINA – Rodrigo “Rody” Roa Duterte (kelahiran 28 Maret 1945), yang berjuluk Digong, adalah seorang politikus dan pengacara Filipina keturunan Visayan. Duterte adalah salah satu walikota yang paling lama menjabat di Filipina dan merupakan walikota Kota Davao, sebuah kota yang sangat tinggi urbanisasinya di pulau Mindanao, selama 7 masa jabatannya, dengan total lebih dari 22 tahun. Ia juga menjabat sebagai wakil walikota dan anggota kongres di kota tersebut. Pada 21 November 2015, Duterte mendeklarasikan pengkandidatannya dalam pemilihan Presiden Filipina tahun 2016. dikutip dari Wikipedia.

Tak lupa pula tokoh media sosial Denny Siregar di websitenya menulis tentang keberanian Sang Presiden Filipina dalam pemberantasan Narkoba di negaranya, berikut tulisannya:

Namanya Rodrigo Duterte. Ia mantan Walikota Davao City di Filipina. Mei lalu, ia dilantik menjadi Presiden dengan upacara kecil di Manila. Pelantikan wakilnya lebih kecil lagi dan dilakukan secara terpisah.

Dalam pidato pengukuhannya, ia berjanji akan melakukan revolusi terhadap kepercayaan rakyat yang sudah mengalami erosi. “Sebagai pengacara dan mantan jaksa, saya tahu mana yang legal dan tidak..” Tegasnya.

Dan tanpa basa basi, perang terhadap narkotika dilancarkannya. Dalam waktu 2 bulan sejak ia dilantik, ratusan mayat bandar narkoba bergelimpangan di jalan tanpa pengadilan bertele-tele. Ia malah menyuruh masyarakat menonton mayat-mayat itu sebagai pembelajaran dan peringatan, untuk tidak main-main dengan narkoba.

Hasilnya? Ratusan ribu bandar narkoba menyerahkan diri karena takut di tembak mati. Penjara di Filipina penuh sesak.

Duterte tidak selesai sampai disitu.

Ia membuka kepada pers nama-nama pejabat mulai dari walikota, sampai hakim dan polisi yang terlibat dalam sindikat narkoba. Ia mengancam kepada mereka untuk melapor dalam waktu 1×24 jam. Kalau tidak.. habis.

Kepala Dueterte sekarang dihargai lebih dari 200 miliar oleh para bandar besar yang sebagian besar berada di luar negeri. Duterte bukannya takut malah menantang, “Lebih baik kalian tidak usah pulang atau bunuh diri saja karena disini kalian tidak akan pernah aman..”

Seperti biasa, HAM dan beberapa pemuka agama teriak-riak. Duterte malah menjawab, “Saya tidak takut masuk neraka. Tidak mudah membunuh manusia, dan saya minta maaf. Kalau sampai di neraka dan bertemu iblis, saya tendang pantatnya. Saya juga tidak takut pengadilan PBB dan dianggap melakukan genosida. Anda urus tugas anda, saya urus tugas saya”.

Rodrigo Duterte

Karena ketegasannya itu, ia di juluki the Punisher atau si penghancur. Duterte menjadi musuh internasional tetapi menjadi pahlawan di negerinya sendiri.

Saya tidak tahu apakah perlu mengangkat secangkir kopi untuknya atau tidak. Karena apa yang ia lakukan mirip dengan Petrus pada masa Soeharto. Meski efektif, tapi sangat mengerikan.

Saran saya untuk para bandar narkoba di Filipina, coba tirulah Indonesia..

Disini sejahat apapun anda, asal anda berpakaian gamis dan khatam Alquran 10 kali, pelihara jenggot sepanjang-panjangnya dan gosok jidat sampai hitam, anda akan menjadi pahlawan. Presiden Duterte disini pasti kelabakan karena ia bisa dianggap “menghancurkan Islam”.

Mr. Presiden, semoga apa yang anda lakukan bisa di teladani Kapolri Tito dan Komandan lapangan BNN Budi Waseso, dimulai dari bersih-bersih di internalnya… Seruput kopi dulu. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: