Amerika

Ron Paul; AS Abaikan Krisis Suriah Selama Enam Tahun

Rabu, 04 Januari 2017,

SALAFYNEWS.COM, WASHINGTON – Keterlibatan AS dalam isu-isu internasional tidak mengeluarkan mereka dari krisis melainkan melanggengkan mereka, menurut Dr. Ron Paul, seorang komentator politik Amerika dan mantan anggota Kongres.

Misalnya, ia menyatakan bahwa intervensi Washington di Suriah dengan membiarkan krisis Suriah berlangsung selama 6 tahun, yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu dekat. (Baca: AS-Turki Tak Inginkan Stabilitas Suriah)

Paul, pendiri Ron Paul Institut Perdamaian dan Kemakmuran, membuat pernyataan dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada hari Senin, satu hari setelah perjanjian gencatan senjata di Suriah disepakati oleh Rusia, Turki, dan Iran.

“Apa yang begitu penting tentang gencatan senjata khusus ini?” Tanya Dr. Paul. “Itu direncanakan, disetujui, dan dilaksanakan tanpa partisipasi dari pemerintah Amerika Serikat.”

Dr. Paul menyarankan untuk tidak melibatkan AS, karena jika AS terlibat mungkin kesepakatan Suriah telah gagal, karena “sering keterlibatan AS dalam ‘memecahkan’ krisis, sebenarnya justru melanggengkan krisis itu sendiri”.

“Lihat bagaimana mana peran AS dalam perang antara Korea Utara dan Korea Selatan. Apakah intervensi AS memecahkan krisis Korea Utara dan Korea Selatan? Bagaimana dengan sengketa Israel-Palestina? Apakah kita lebih dekat ke perdamaian antara Israel dan Palestina?” Tanya analis politik.

Pada hari Sabtu, Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang mendukung perjanjian gencatan senjata di Suriah, yang juga bertujuan untuk membuka jalan bagi perundingan damai baru pada bulan depan. (Baca: Zakharova: Ini Bukti Pengkhianatan Amerika di Suriah)

Teks resolusi PBB “menyambut baik dan mendukung upaya Rusia dan Turki untuk mengakhiri kekerasan di Suriah dan memulai proses politik.”

“Non-intervensi dalam urusan orang lain tidak merusak kredibilitas AS di luar negeri. Sebaliknya campur tangan AS, pengeboman, mengoceh, danperubahan rezim yang merusak kredibilitas kita di luar negeri,” katanya.

“Suriah dan Rusia telah membebaskan Aleppo timur dari pendudukan selam empat tahun oleh kelompok teroris, pemerintahan Obama justru menuntut gencatan senjata. Rakyat Suriah mulai bergerak kembali ke rumah mereka di Aleppo timur, Departemen Luar Negeri AS terus memberitahu kami bahwa Rusia dan pemerintah Suriah membantai warga sipil untuk bersenang-senang,” lanjutnya.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menuduh Presiden Suriah Bashar al-Assad melakukan “pembantaian” gaya Srebrenica di Aleppo, setelah bagian timur kota itu dibebaskan oleh tentara Suriah dari militan yang sebagian besar adalah orang asing. Tapi Kerry diam atas pembantai yang dilakukan militan selama empat tahu di Aleppo timur, ujarnya.

Sementara Amerika Serikat bersama dengan sekutu Eropa dan Timur Tengah telah berjuang dengan perang proksi terhadap pemerintah Suriah sejak 2011. Perang telah mengakibatkan sekitar setengah juta warga Suriah tewas dan jutaan lainnya mengungsi.

Pada tahun 2012, teroris al-Qaeda yang didukung oleh musuh-musuh Suriah berhasil menangkap bagian timur Aleppo, kota terbesar Suriah dengan populasi 2,5 juta orang. Sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO menggambarkan Aleppo sebagai ibukota komersial Suriah.

Kota Aleppo telah berubah menjadi reruntuhan sejak diduduki teroris, dan mereka telah melakukan kekejaman terhadap warga sipil dan menahan puluhan ribu dari mereka sebagai sandera sejak 2012. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: