Amerika

Runtuhnya Kekuasaan Amerika di Dalam dan Luar Negeri

Salafynews.com – Krisis dan kekacauan yang memenuhi Timur-Tengah dan Ukraina adalah bukti nyata mulai runtuhnya kekuasaan Amerika Serikat. Washington mau tak mau harus menerima pelajaran berat bahwa tidak ada kekuasaan yang berlangsung abadi selamanya.

Kebangkitan perang Vietnam, sebuah akhir yang ditandai dengan angkat kakinya personel-personel AS dan dievakuasinya beberapa kolaborator Vietnam dari naungan kedutaan AS di Saigon pada tahun 1975, menjadikan AS kemudian memasuki periode panjang proses keruntuhan dengan tak lagi memiliki kemampuan untuk melakukan operasi militer besar-besaran.

Dengan melakukan perusakan besar-besaran terhadap kekuatan dan gudang senjata Amerika di Vietnam, para pejuang Vietnam bagai menunjukkan bahwa imperialisme AS tak ubahnya hanya raksasa berkaki batu (tak memiliki kemampuan untuk bergerak). Periode kemunduran kekuatan besar AS yang terjadi sekitar tahun 1975 hingga 1991 itu kemudian disebut sebagai “sindrom Vietnam. Yang kemudian berusaha dialihkan  oleh  Amerika dan koalisinya dengan melaksanakan perang teluk pertama guna mengusir pasukan Irak keluar dari Kuwait.

Disini kita bisa menarik  persamaan dari periode keruntuhan kekuasaan AS waktu itu di Vietnam  dengan ketidak mampuan Washington umtuk melaksanakan operasi militer berskala besar di Timur Tengah. Hal ini merupakan konsekuensi dari kegagalan operasi di Afghanistan dan Irak, keduanya tidak menghasilkan apapun kecuali membludaknya terorisme dan ekstrimisme sepanjang wilayah teluk yang kemudian  berkepanjangan menyebar ke seluruh dunia.

Sumber dana besar AS yang telah dihabiskan, kemudian melumpuhkan kekuatan Washington sendiri. Sementara itu, kesenjangan sosial yang melebar di dalam negeri Amerika Serikat dimana hal itu dapat disaksikan dari brutalnya perlakuan terhadap rakyat miskin, para imigran, dan kulit hitam, mengungkapkan keadaan masyarakatnya yang mendekati kehancuran.

Kembali ke tahun 2005, the Washington Post menggambarkan masa itu sebagai “sindrom Irak”. Dalam sebuah artikel yang menjabarkan catatan sekretaris menteri pertahanan AS, Donald Rumsfeld, mengenai kepergiannya, surat kabar itu menulis.

“Rumsfeld akhirnya mengemasi barang-barang dari kantornya di Pentagon, ia akan meninggalkan sindrom Irak yang lebih memberatkan lagi, yakni sebuah keyakinan baru, kacau dan terkadang  lumpuh yang menganggap  intervensi militer AS berskala besar apapun pada akhirnya hanya akan berujung kepada kegagalan dan kejahatan moral.

Sepuluh tahun kemudian, dengan versi Islam Khmer Merah dalam bentuk Negara Islam yang dikenal dengan ISIS/ISIL yang merajalela di Suriah dan Irak, kehadiran pemerintahan AS  justru terkesan acak-cakan dan hingga titik terkini, serangan udaranya melawan ISIS yang terus menerus meningkatkan cengkeramannya di wilayah Irak dan Suriah itu, menjadi impoten.

Keruwetan di Timur-Tengah memang sudah terkenal. Keberadaan sumber cadangan energi terbesar dunia disana, telah menjadikan status negara-negaranya senantiasa berperang di garis depan yang jika tidak untuk kepentingan Amerika maka untuk melawan hegemoni AS.

Disaat yang sama, keberagaman etnik, kepercayaan, identitas kesukuan yang saling bersilangan di wilayah itu membuatnya bagaikan bubuk mesiu yang setiap saat siap meledak jika dipicu.

Runtuhnya AmerikaDan ledakan seperti itu awalnya terjadi saat  perang udara NATO melawan pemerintahan Khadafi di tahun 2011. Berawal dari niat untuk memastikan fase kebangkitan Arab di Libya mendarat dengan selamat di pangkalan kepentingan geopolitik Barat, jatuhnya Khadafi justru membuka pintu neraka yang menuangkan puluhan ribu pendukung fanatik yang haus darah dan tak kenal batas.

Washington dan sekutu Eropanya tak kuasa mengendalikan merajalelanya fanatisme yang dikembangkan secara diam-diam oleh sekutu-sekutu arab mereka, Turki, Saudi Arabia dan beberapa monarki teluk lain melalui Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Keputusan Obama untuk tidak melanjutkan serangan udaranya melawan pemerintahan Suriah membuat kredibilitasnya compang-camping. Menganggap presiden ini lemah, Israel, Turki, Saudi Arabia dan Qatar kemudian melaksanakan agenda mereka sendiri, yang berarti melaksanakan apa saja yang diperlukan untuk membendung pengaruh syi’ah di wilayah Teluk.

Perdana Menteri Benyamin Netanyahu mengambil kebijakan yang menentang kehadiran Obama dalam usaha menengahi masalah Palestina yang sulit dipecahkan, sementara upayanya untuk menggagalkan  negoisasi Iran atas program nuklir Teheran dianggap sebagai penghinaan terhadap otoritas pemimpin AS tersebut.

Saudi dan rekannya Turki, seperti kita tahu, baru-baru ini juga menyetujui sebuah strategi bersama dalam kerjasama energi dan sumber alam dalam usaha untuk menggulingkan pemerintahan Assad. Menebar kegelisahan dengan membawa ISIS dalam gerakan jihad global, kedua pemerintahan itu justru terombang-ambing  diantara kelompok-kelompok jihad buatan mereka sendiri.

Bukti lain yang menunjukkan ketidak mampuan Washington dalam melindungi kekuasaannya  adalah upaya tidak masuk akal dan putus asanya dalam usaha membuat  Rusia patuh terhadap  Eropa Timur, yang kemudian melibatkan pengenaan sanksi dan upaya untuk mengisolasi negara itu secara  politik dan budaya.

Tambahan lagi, memanfaatkan perannya sebagai mata uang dunia,  dolar  selama ini telah menjadi andalan dalam kekuatan besar AS sejak perang dunia dua. Namun hegemoni mata uang Amerika kinipun sedang dipertaruhkan dengan didirikannya Asian Infrastucture Investment Bank(AIIB) oleh China pada Oktober 2014 lalu. AIIB ini dianggap sebagai saingan IMF. Menariknya, diantara 20 negara pertama yang bergabung dengan Bank Investasi Infrastruktur itu adalah Inggris dimana negara itu notabene merupakan salah satu sekutu utama AS.

AIIB bergabung juga dengan Bank Pembangunan Asia yang juga didirikan oleh China bersama Rusia, India, Brazil, dan Afrika Selatan. Bank Pembangunan Asia yang dikenal juga dengan bank BRICS ini  berdampingan dengan bank pembangunan Organisasi Kooperatif Shanghai (SCO) sebagai bagian dari operasi infrastruktur keuangan dunia yang tidak bergantung pada Washington. SCO juga telah menciptakan mata uangnya sendiri yang digunakan untuk menolong para nasabahnya dari guncangan keuangan ataupun krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi  pada sistem keuangan Amerika di tahun 2008.

Secara bersama-sama, dengan mudah dapat ditarik garis yang memetakan hubungan antara penurunan relatif hegemoni AS, unipolaritas, keberlangsungan ekonomi, geopolitik, budaya maupun  militer AS. Bahayanya  dari proses keruntuhan ini kemudian adalah, tersebarnya ekstrimisme dan fanatisme membabibuta dimana hal itu diakibatkan karena sekutu-sekutu AS di wilayah regional teluk memainkan agenda mereka sendiri, tidak perduli bagaimana hal itu nantinya akan menghancurkan kepentingan Amerika dan menimbulkan ketidak stabilan.

Seperti masa kekaisaran Romawi sebelumnya, Washington saat ini tengah belajar bahwa satu-satunya hal yang abadi di dunia ini adalah ketidak abadian itu sendiri, apalagi bagi kekuasaan imperialis yang bersandarkan kepada kemunafikan dan ketidak adilan. (lm/rt)

Penulis oleh John Wight

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: