Nasional

Salafy Wahabi Gagal Pahami Nasionalisme dan Islam Nusantara

Salafynews.com, JAKARTA – Islam bukan Arab, tetapi Islam tidak bisa dilepas dari bahasa Arab. Bagi sebagian kita yang dalam kondisi On Fire mengkaji Islam Nusantara, hendaknya ini dipikirkan secara serius, mengingat saat ini sebagian dari kita antipati terhadap bahasa Arab. Sikap A-priori terhadap yang berbau Arab sebenarnya imbas daripada sikap kaum Wahabi dan sejenis yang kurang memahami teknik berdakwah secara santun. Dakwah yang mereka usung cenderung keras dan melabrak rambu-rambu budaya masyarakat lokal dengan cacian. Semua yang tidak sesuai dengan budaya Arab dianggap Kafir, Ahli Bid’ah, Musyrik dan lain sebagainya

Tidak hanya itu, kata Salafy yang dulu dipakai sebagai jargon pondok-pondok tradisional di Indonesia, saat ini maknanya menjadi bias. Banyak yang beranggapan, kata salafy cenderung berafiliasi pada Wahabi, padahal nyatanya tidak, sekali lagi tidak. Miris memang, lalu harus bagaimana? Satu2nya jalan adalah dengan menambah wawasan lewat mediasi belajar. Belajar kepada guru yang jelas, jangan belajar pada google atau kepada ustadz-ustadz instan yang bermodal sorban dan kemampuan beretorika.

Mengenai bahasa Arab, kita tidak bisa melepaskan Islam dari Bahasa Arab. Karena sendi-sendi agama Islam bermuara pada al-Qur’an dan al-Sunnah yang kedua2nya berbahasa Arab. Al-Qur’an berbahasa Arab merupakan ketentuan Allah dan itu hak Parerogatif-Nya yang tidak bisa diganggu gugat. Saya pun mengakui, pemakaian bahasa Arab di sana memang erat kaitannya dengan aspek budaya Bangsa Arab, karena memang Islam secara normatif lahir dan berkembang di Arab. Dalam kajian Antropologi Budaya, antara bahasa dan budaya merupakan pertautan yang tidak bisa dipisahkan.

KH Hasyim Asyari

KH Hasyim Asyari

Namun, setelah Islam menjadi agama besar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, maka budaya Arab pun sedikit demi sedikit luntur. Hal ini disebabkan karena umat Islam di berbagai wilayah mempunyai tradisi sendiri-sendiri, sehingga mau tidak mau harus ada sebuah paradigma baru agar Islam benar-benar bisa diterima sebagai agama yang mengusung Rahmatan lil Alamiin. Untuk itu, di sini peran Ijtihad diperlukan. Alhasil, lewat Ijtihad ini al-Qur’an dan al-Sunnah dirasa oleh umat Islam sebagai pijakan yang menembus ruang dan waktu.

Islam Nusantara, bukan berarti kita merubah bahasa Arab di dalam shalat ke bahasa Lokal. Bukan pula membaca al-Qur’an yang berbahasa Arab ke versi bahasa Indonesia. Islam Nusantara sejauh yang saya pahami adalah Islam yang menyelaraskan antara kebudayaan lokal dengan ajaran Islam sehingga tidak terkesan kontradiktif. Islam tidak anti budaya lokal, karena Islam bukan hanya agama bagi bangsa Arab. Prinsip Islam Nusantara adalah Almuhafadzah alaa al-Qadiim al-Shaleh wal al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah (Mempertahankan tradisi lama yang baik, dan mengadopsi tradisi baru yang lebih baik). Islam Nusantara adalah untuk menumbuhkan nasionalisme dan menumbuhkan kearifan lokal yang amat sangat penting untuk menjaga kedamaian dan ketentraman bermasyarakat dan beragama..

oleh karena itu wacana Islam Nusantara belakangan ini yang bergema di Indonesia akan menjadi tema utama Muktamar ke-33 NU. Sayangnya, banyak kalangan yang salah paham atau memang tak mau paham. Mereka menganggap Islam Nusantara sebagai aliran baru atau mazhab baru bahkan ada yang menuduh sinkretis antara Islam dan agama Jawa.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan apa yang dikatakan orang-orang tersebut sama sekali tidak benar. “Ini bukan aliran baru, kita tetap Islam aswaja yang berpegang teguh pada mazhab Asy’ari dan Syafii,” katanya di gedung PBNU, Jum’at (3/7).

Ia menjelaskan, Islam Nusantara merupakan Islam yang menghargai budaya lokal. Secara umum, masyarakat Nusantara sudah memiliki budaya yang beragam, tradisi yang beragam sebelum kedatangan Islam.

“Islam datang tidak menghapus budaya, tidak memusuhi khazanah peradaban. Tidak menyingkirkan tradisi yang ada, asalkan jelas tidak bertentangan dengan Islam. Kalau ritual hubungan seks bebas atau minum arak, itu kita tidak menerima.”

“Selama tradisi tidak bertentangan dengan prinsip kita, maka Islam melebur dengan tradisi tersebut karena dakwah di Nusantara itu pendekatannya pendekatan budaya, bukan pendekatan senjata seperti di Timur Tengah,” tandasnya.

Dengan strategi dakwah kebudayaan seperti itu, pelan-pelan budaya yang ada di Nusantara sekarang sudah bernafaskan Islam. “Islam menjadi kuat karena menyatu dengan budaya, budaya menjadi Islami karena disitu ada nilai Islam.”

Ia mencontohkan transformasi tradisi non Islam yang kemudian diislamkan seperti pemberian sesajen kepada para dewa yang kemudian menjadi slametan. Slametan tujuh bulan kehamilan tadinya budaya Jawa, kemudian diislamkan dengan nilai Islam, salah satunya dengan membacakan surat Lukman pada peringatan tujuh bulan tersebut, supaya anaknya baik, taat pada orang tua sebagaimana Lukmanul Hakim dalam kisah Al-Qur’an.

“Jadi budaya yang sudah ada kita masuki dengan nilai Islam. Ini berangkat dari sinergi antara teologi dan budaya, maka NU memberi nama Islam Nusantara,” tegasnya. (SFA/MM?Muslimedianews)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: