Editorial

Saudi Suguhkan Jamuan Penderitaan Bagi Rakyat Yaman

SANA’A, Arrahmahnews.com Genjatan Senjata di Yaman datang terlambat tapi ada secercah harapan 25 juta rakyat Yaman yang tengah menghadapi kelaparan atau kematian. Arab Saudi setidaknya telah mengeluarkan biaya $50 juta hanya untuk membunuh dan membantai rakyat miskin Yaman… Apakah genjatan senjata ini pengantar untuk genjatan senjata permanen?

Abdul Bari AtwanJumat (10/7/2015) menjadi kabar baik bagi 25 juta rakyat Yaman. Paling tidak muslim Yaman bisa bernafas lega dalam waktu 5 hari kedepan, setelah 100 hari merasakan sesak atas serangan tanpa henti Arab Saudi. Paling tidak ada kesempatan bagi warga Yaman mencari keluarga dan sanak saudaranya yang hilang akibat perang. Paling tidak ada waktu bagi mereka untuk menguburkan keluarga yang gugur syahid selama invansi biadab Saudi. Paling tidak ada bantuan kemanusian yang dapat mengobati rasa haus, lapar, dan luka, setelah mereka hidup dalam 100 hari tanpa makanan, air, dan listrik.

Sejak serangan “badai tegas”, 175 pesawat atas nama koalisi Arab “formalitas” yang dipimpin Badui Najd (Arab Saudi), membuat 25 juta rakyat Yaman hidup dalam tekanan. Tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada listrik, tidak ada obat-obatan, kerusakan fasilitas medis, dan mewabahnya penyakit epidemi, khususnya demam bedarah.

Keputusan genjatan senjata bukan datang dari mantan Presiden Abdul Rabouh Mansour Hadi, bukan pula dari rezim desporik Arab Saudi. Tetapi tekanan itu datang dari masyarakat internasional.

Tekenan internasional telah mencapai puncaknya ketika Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon menyerukan genjatan senjata sesegera mungkin. Tekenan yang datang terlambat setelah 2.800 warga sipil Yaman tewas, dan 13.000 luka-luka.

Utusan PBB, Ismail Ould Syeikh berulang kali menyuarakan genjatan senjata dan bencana kemanusiaan di Yaman, dan menyadari “keras kepala” Badui Najd yang tetap ingin memaksakan perang. Seyogyanya genjatan senjata ini bukan untuk menghormati sepuluh hari terakhir Ramadan atau pun hari Raya Idul Fitri. Tetapi seharusnya genjatan senjata ini mengakhiri penderitaan rakyat miskin Yaman, dan mengembalikan kedamaian dan keamanan mereka untuk selamanya.

Namun, jet tempur Saudi berkata lain, dan lebih menunjukkan keangkuhan dan haus darah. Setelah PBB mengumumkan genjatan senjata pada Kamis 23.59 waktu setempat, pesawat-pesawat rezim Saudi masih terus membombardir beberapa wilayah di Yaman hingga kini. Mereka terus menghujani Yaman dengan bom, sementara rakyat miskin dipaksa untuk mematuhi genjatan senjata.

Genjatan senjata tanpa syarat, sepihak, dan hanya Saudi yang boleh memutuskan berperang atau berdamai. Sementara Houthi dipaksa menyambut dan mematuhinya tanpa syarat. Rupanya PBB pun telah kehilangan akal, tidak tahu siapa yang lemah dan siapa yang kuat? Tidak tahu siapa yang menganiaya dan siapa yang dianiaya?

Belom lagi ada banya pihak di luar kendali, seperti “ISIS” dan “al-Qaeda”, serta milisi-milisi pro-Hadi, yang membuat Yaman semakin tidak aman dari kekacauan, pembunuhan, teror bom, dan pelanggaran hukum lainnya.

Arab Saudi membayar mahal perang ini, tanpa tujuan yang jelas dan hasil yang memuaskan. Sebelumnya Saudi telah mengalami defisit anggaran lebih dari 20% dari pendapatan nasional (191 Milyar Dolar). Harian Bloomerg baru-baru ini melaporkan bahwa Arab Saudi akan menjual obligasi pada akhir tahun untuk mengatasi defisit.

Suatu hal yang mengejutkan dan fantastis, karena hingga kini belum ada media yang memberitakan dan menulis biaya perang yang dikeluarkan Saudi. Entah tidak berani atau dilarang menyentunya. Memang benar anggaran pertahanan Arab Saudi terbesar keempat di dunia dengan total $57 Milyar. Itu belum termasuk biaya perang yang dikeluarkan Saudi, tentu akan memakan anggaran bulanan. Laporan menunjukan anggaran perang yang telah dikeluarkan hingga pertengahan April mencapai $30 Milyar, dan jika dikalkulasi hingga hari ini mungkin telah naik dua kali lipat.

Itu kalkulasi biaya perang yang dikeluarkan Arab Saudi, lalu bagaimana dengan negara miskin Yaman? Meskipun tidak sebanyak Saudi, bahkan setengahnya pun tidak, namun pengeluarkan biaya perang bagi Yaman justru akan memperparah dan memperburuk kondisi negara itu.

Tentu rakyat miskin Yaman berharap bahwa genjatan senjata akan bertahan selamanya, bukan untuk sementara. Namun, bangsa Yaman juga bukan bangsa babu, yang mudah menyerah hanya dengan gertak sambal dan bertekuk lutut di hadapan Saudi. Yaman adalah bangsa terhormat, kuat dan pantang menyerah meskipun diambang kelaparan dan kematian.

Bagi Yaman genjatan senjata 5 hari adalah harapan, namun bukan untuk tunduk pada rezim Badui Najd.

Kami Berharap genjatan senjata itu dapat diperpanjang 1 bulan kedepan atau bahkan bertahun-tahun.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: