Artikel

Surat Terbuka Saiful Huda kepada Menhan Ryamizard Ryacudu

Sabtu, 14 Mei 2016,

SALAFYNEWS.COM, BANDUNG – Saiful Huda EMS dalam akun facebooknya menulis sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Menhan, simak tulisannya:

SURAT TERBUKA UNTUK MENHAN RYAMIZARD RYACUDU

Bissmillahirrahmanirrahim…

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Salam NKRI Pak Jenderal !…

Pak, melalui surat terbuka ini, perkenankanlah saya memperkenalkan identitas diri saya. Nama saya Saiful Huda Ems yang biasa disingkat SHE. Saya alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang sejak dahulu dikenal sebagai pusatnya kegiatan ormas keagamaan Nahdlatul Ulama, juga merupakan pusat kaderisasi para Kyai dan politisi yang berhaluan Ahlu Sunnah wal Jamaah. NU di tahun 1965 dalam sejarah kenegaraan kita, merupakan organisasi massa keagamaan yang terdepan bersama TNI dalam menghadapi Gerakan G/30 S./PKI. Almarhum ayah saya sendiri di tahun 1965 itu juga merupakan seorang Ketua Barisan Serbaguna (Banser) NU di daerah saya (Gresik), meski menurut ayah, keluarga dan semua tetangga, ayah saya belum pernah sekalipun menghunuskan pedang Samurai di pinggangnya untuk menganiaya apalagi membunuh PKI. Itu semua dilakukannya karena ayah saya tidak tegaan, juga sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan, meskipun saat itu keluarga saya sendiri selalu berada dalam ancaman kekerasan PKI. (Baca: Ternyata DN Aidit ‘PKI’ Berfaham Wahabi)

Berikutnya melalui surat terbuka ini, saya juga ingin mengingatkan Pak Ryamizard, bahwa saat Pak Jokowi sebelum dan sesudah terpilih sebagai Presiden RI ke 7, saya termasuk salah seorang pendukung Pak Jokowi yang mengusulkan agar Pak Ryamizard diperhitungkan oleh Pak Jokowi untuk menjadi calon Wapres (sebelum Pilpres), dan mengusulkan pada Pak Jokowi untuk mengangkat Pak Ryamizard sebagai menteri (setelah Pilpres). Ketika itu banyak sekali teman-teman aktivis yang kurang sepakat Pak Ryamizard diangkat sebagai Wapres atau menteri dengan berbagai alasan yang mereka kemukakan, tapi saya tetap ngotot meminta Pak Jokowi untuk mengangkat Pak Ryamizard sebagai Cawapres atau sebagai calon menterinya. Semuanya saya nyatakan secara terbuka, melalui tulisan-tulisan saya di medsos, mengingat saya tidak punya posisi apa-apa selain hanya sebagai rakyat biasa. Semua yang saya katakan ini bisa Pak Ryamizard telusuri di postingan-postingan akun facebook saya ini ketika menjelang dan sesudah Pilprrs 2014.

Saya bangga dengan dedikasi Pak Ryamizard selama masih aktif sebagai salah seorang jenderal yang profesional dan heroik. Saya pernah terkagum-kagum ketika Pak Ryamizard dihadang oleh pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di jalan di tengah hutan, namun kemudian Pak Ryamizard tidak sembunyi malah turun dari mobil dan mengejar para pemberontak itu sampai ke tengah hutan. Itulah keberanian Pak Ryamizard yang membuat saya tanpa ragu mengusulkan pada Pak Jokowi agar dipilih menjadi Cawapres atau calon menterinya. Akan tetapi sayang sekali, seiring dengan waktu Pak Ryamizard saya lihat sudah tidak sekokoh lagi idealismenya seperti dulu. Pak Ryamizard tampak tidak lagi sebagai Purnawirawan Jenderal yang profesional, tetapi malah emosional. Pak Ryamizard seperti sudah tidak setia lagi pada kebenaran dan keadilan, melainkan nampak lebih setia pada ketakutan bapak sebagai bagian dari TNI yang hidup bersama Trauma Hitam Sejarah Penghianatan G/30.S/PKI. Kenapa saya bisa katakan demikian? (Baca: Denny Siregar, HTI, Khilafah! Banser Kok Dilawan)

Pertama, dalam beberapa minggu terakhir ini Pak Ryamizard sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) telah beberapa kali melontarkan pernyataan tentang bahayanya Komunisme, dan Komunisme bapak artikan itu dengan PKI, padahal sejatinya Komunisme tidak selalu berarti sama dengan PKI bukan? Generalisasi seperti ini berakibat fatal Pak, karena dengan generalisasi ini aparat keamanan kita termasuk bapak sendiri sebagai Menhan telah menistakan berbagai dokumentasi karya ilmiah, yang di dalamnya menjadikan buah pemikiran para pemikir dunia dan nasional kita sebagai renungan, telaah dan informasi untuk keperluan akademik yang dapat memperkaya wawasan anak-anak bangsa, baik yang masih aktif di dunia pendidikan atau yang sudah tidak lagi sekolah atau kuliah.

Sweeping buku-buku yang mengarah ke “kiri” terjadi dimana-mana, di berbagai daerah. Mereka yang memakai kaos Palu Arit dikejar-kejar dan dipukuli. Bahkan tidak hanya itu, konon di Yogyakarta ada Ikan Lohan yang kepalanya ada bintik-bintik mirip lambang Palu Arit juga diamankan oleh aparat keamanan. Apa harus sejauh ini Trauma Hitam itu menyetir akal sehat kita Pak? Apa harus seperti ini TNI dan POLRI yang dididik puluhan tahun dan dipersenjatai memberi teladan yang baik pada rakyatnya untuk menyikapi sebuah masalah? Topi bekas Tentara Uni Sovyet pun diamankan dan penerbit serta toko-toko buku yang menjual buku “kiri” juga tak luput digeledah dan pemiliknya dihembuskan rasa ketakutan. Ini sangat tidak mendidik Pak, tidak pula mencerminkan praktik sebuah negara yang demokratis dan beradab. Kasihan presiden kita Pak Jokowi dong Pak. Kasihan juga anak-anak bangsa kita yang sudah rela mau mengeluarkan uang untuk membeli atau menulis dan mencetak buku. Mereka itu seharusnya malah kita suport agar tidak terjebak dalam pergaulan yang tercelah. Mabuk-mabukan, ganja, narkoba dlsb.

Kedua, saya tadi juga mendengar dan membaca (semoga itu hanya kabar hoax, bohong atau palsu, karena hingga detik ini saya sendiri masih belum yakin akan berita ini) bahwa Pak Ryamizard tidak mau mengikuti instruksi Presiden yang meminta aparatur negara yang berwenang untuk membongkar Kuburan Massal Korban Peristiwa G/30.S/PKI. Kenapa bisa sampai terjadi seperti itu? Padahal Pak Ryamizard saat ini masih jadi Menhan di Kabinet Kerja Jokowi, jika berita itu benar, bukankah tindakan Pak Ryamizard itu merupakan tindakan insubordinasi Pak? Apa yang akan terjadi kalau para menteri tidak mau mengikuti instruksi dari presidennya, sedangkan bukankah kita semua telah tahu bahwa dalam Sistem Ketata-Negaraan kita, para menteri adalah pembantu Presiden yang bekerja dan bertanggung jawab pada presiden?

Maka karena itu, jika saja saya saat ini berada pada posisi seperti Pak Ryamizard lebih baik saya ikuti saja instruksi prrsiden itu. Kita bongkar kuburan massal orang-orang PKI seperti yang ditunjukkan oleh para saksi hidup, dan kemudian kita persiapkan strategi bagaimana kejadian ini tidak menimbulkan rasa simpati yang dalam para keturunan PKI dan anak-anak bangsa yang tidak mengetahui secara pasti bagaimana kejadian sesungguhnya di tahun 1965. Kita persiapkan para pencerah dari anak-anak bangsa terbaik kita untuk menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi di tahun 1965, dan memberi pencerahan bukan untuk semakin memperuncing persoalan yang dapat membahayakan ikatan persatuan dan kesatuan nasional, melainkan bagaimana menggugah kesadaran kolektif nasional, tentang bahayanya memaksakan ideologi dengan cara-cara kekerasan. Dengan demikian Negara dapat menuntaskan dua persoalan sekaligus yang selama ini mengganggu ketentraman kita sebagai warga negara, yakni gangguan para loyalis PKI dan gangguan para loyalis ISIS. Sepakat Pak Jenderal? Semoga saja.

Akhirul kalam, saya berdoa semoga Allah SWT selalu membimbing dan melindungi Pak Ryamizard Ryacudu, membimbing dan melindungi Pak Preiden Jokowi bersama segenap jajaran Korps TNI dan POLRI, serta seluruh Bangsa Indonesia. Jayalah Indonesia, merdeka !…

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Bandung, 14 Mei 2016.

Hormat Saya:

Saiful Huda Ems (SHE). Pemerhati masalah sosial dan politik Indonesia. Mantan Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Berlin Jerman tahun 1994-1995.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: