Analisis

Takfiri ISIS Hanya “Pionir” Bagi AS

Salafynews.com – Berdasarkan teori sistem di dunia, Amerika sebagai salah satu pemain utama di sistem internasional berusaha menjadikannya sebagai bagian dari sistem di kawasan. Negara-negara ini menurut anggapan Amerika adalah pemain yang berpengaruh di tingkat regional yang dipimpin oleh Washington. Negara tersebut akan bertindak di bawah kebijakan makro Amerika Serikat di kawasan.

AS sejatinya menyadari bahwa dukungan Arab Saudi dengan beragam bentuknya terhadap kelompok Takfiri dan teroris di Irak serta Suriah seperti Front al-Nusra, ISIS dan Front Islam Pembebas Suriah serta berbagai kelompok lainnya, dilancarkan dalam bentuk dukungan finansial, militer, intelijen, ideologi dan propaganda. Hal ini dikarenakan dampak dari agresi Amerika ke Irak pada Maret 2003 dan tumbangnya Saddam Hossein serta terbentuknya pemerintahan demokratis di negara ini, tidak menyenangkan Arab Saudi.

alalam_635456000248753162_25f_4x3_SFA1

Meski hubungan Irak dan Arab Saudi di tahun 2004 dan setelah tumbangnya Saddam Hossein dijalin kembali, namun kedutaan besar Arab Saudi di Baghdad masih libur. Bahkan raja Arab Saudi masih enggan mengirim duta besarnya ke Irak hingga tahun 2014. Setelah Haider al-Abadi diangkat sebagai perdana menteri baru Irak, Arab Saudi dengan sikap sangat berhati-hati bersedia mengirim duta besarnya ke Baghdad pada musim panas tahun 2014. Keputusan untuk memulai hubungan Arab Saudi dengan Irak ditandai dengan membuka kembali kedutaan besarnya di Baghdad.

Meski demikian, Arab Saudi yang masih tetap ingin menjamin kepentingannya melalui pengobaran perang sektarian, kemudian melanjutkan usahanya mendukung kelompok teroris radikal di Irak. Hasil dari dukungan finansial, logistik, persenjataan, intelijen dan pelatihan Arab Saudi terhadap teroris adalah kian meluasnya dimensi kejahatan kelompok Salafi dan Takfiri, meletusnya kekerasan, bentrokan dan kehancuran di Irak serta merembetnya krisis ini ke Suriah serta munculnya instabilitas di kawasan.

Di samping dukungan ideologi, militer dan persenjataan Riyadh kepada kelompok teroris di Suriah dan Irak, disebutkan pula bahwa Arab Saudi merupakan pendukung finansial utama kelompok teroris Front al-Nusra di Suriah. Mayoritas pemimpin Front al-Nusra adalah para kriminal Arab Saudi yang dibebaskan dari penjara dan dikirim ke Suriah untuk mengumbar kejahatannya di sana.

alalam_635456000248753162_25f_4x3_SFA12

Adapun Qatar juga seperti Arab Saudi, pendukung kelompok teroris seperti ISIS dan Front al-Nusra. Doha juga memberi dukungan militer, intelijen, logistik dan finansial kepada kelompok teroris tersebut. Koran Financial Times terkait dukungan finansial Doha kepada kelompok teroris di Irak dan Suriah dalam sebuah laporannya menulis, pemerintah Qatar selama dua tahun memberi lebih dari tiga miliar dolar kepada kelompok teroris bersenjata. Gerd Müller, menteri pembangunan Jerman dalam statemennya juga menyebut Qatar menjadi penyandang dana ISIS. Pusat riset internasional Stockholm dalam laporannya menyebutkan, Qatar sejak April 2012 hingga Maret 2013 mengirim lebih dari 70 kiriman militer kepada kelompok teroris melalui Turki.

Sementara itu, meluasnya ideologi Salafi di kawasan dipengaruhi oleh empat peristiwa penting selama tiga dekade terakhir terhadap kehidupan politik kaum Salafi. Menurut hasil riset dalam masalah ini, keluarnya Uni Soviet dari Afghanistan dan kembalinya pejuang Salafi yang bernama “Arab-Afghanistan” ke negaranya merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya bentrokan berdarah antara Salafi, pemerintah Arab atau kelompok lainnya di sejumlah negara seperti Mesir, Aljazair dan Arab Saudi di dekade 1990-an. Bentrokan ini akhirnya berakhir dengan ditumpasnya Salafi Jihadi dan Takfiri.

Pendudukan Kuwait dan melubernya pasukan Amerika Serikat di pantai Teluk Persia untuk memerangi Irak, merupakan faktor lain yang membentuk gerakan kuat Salafi di Semenanjung Arab. Ulama-ulama yang masih relatif muda seperti Salman al-Ouda, Aaidh ibn Abdullah al-Qarni serta puluhan ulama Saudi lainnya di dekade 1990-an menciptakan gelombang luas anti Amerika Serikat di negara-negara Islam Arab melalui pidatonya yang menggebu-gebu menentang keberadaan militer AS di Semenanjung Arab.

Peristiwa 11 September 2001 dan terkuaknya nama 15 warga Arab Saudi di antara 19 pelaku serangan ke menara kembar di Amerika tersebut merupakan transformasi lain yang mendorong perubahan hubungan Arab Saudi dan Amerika. AS menuding sistem pendidikan Arab Saudi bertanggung jawab atas munculnya fenomena radikalisme Salafi dan pemerintah Riyadh didakwa toleran dengan kubu radikal Salafi. Washington juga menuntut reformasi dalam sistem pendidikan sekolah agama dan universitas Islam di Arab Saudi.

alalam_635456000248753162_25f_4x3_SFA13

Selama periode ini, Arab Saudi beberapa kali mengubah susunan dewan senior ulama di negara ini untuk menjawab permintaan Washington. Riyadh pun memecat ulama yang radikal dari dewan ini. Arab Saudi juga melakukan perombakan dalam sistem pendidikan sekolah agama dan universitas Islam. Pada akhirnya dengan lawatan Raja Abdullah, pemimpin Arab Saudi saat itu ke Amerika di tahun 2005, dampak buruk tragedi 11 September berhasil dibersihkan dalam hubungan kedua negara.

Proses terbentuknya gerakan Salafi sempurna dengan agresi Irak di tahun 2003 dan terbuka peluang lebar bagi Salafi radikal. Dinas keamanan Arab Saudi yang memiliki kedekatan dengan kubu radikal Salafi memanfaatkan sarana ini untuk memukul dan menghancurkan pemerintah baru Irak serta Syiah.

Dari sudut pandang lain, krisis radikalisme dan terorisme di kawasan muncul seiring meletusnya krisis di Suriah pada musim dingin 2011 yang didukung secara langsung oleh negara-negara Barat-Arab. Krisis ini sejatinya musim semi bagi rezim Zionis Israel dan hancurnya poros muqawama Islam di kawasan. Karena aksi ISIS di Irak dan kemudian di Suriah serta upaya kelompok teroris ini untuk menghancurkan poros muqawama di Lebanon sepenuhnya selaras dengan tujuan yang dicanangkan AS dan Israel.

Realita ini tampak jelas di kinerja ISIS, di daerah tampak kehadiran rezim Zionis, di sana pasti ISIS tidak tampil dan tidak beraktifitas. Namun sebaliknya di daerah yang ada potensi melawan Israel di Timur Tengah, ISIS sangat aktif dan dengan kekuatan penuh mengobrak-abrik keamanan serta gencar melakukan aktivitas terorisme. Peristiwa yang terjadi di kawasan perbatasan Golan Suriah yang diduduki Israel mengindikasikan, meski bentrokan dan perang di dekat daerah ini sejak lama terus berlanjut dan terkadang sejumlah peluru nyasar ke wilayah yang diduduki Israel ini yang pelakunya tidak pernah terungkap, namun kelompok Takfiri belum pernah berusaha merambah ke kawasan tersebut serta menimbulkan kesulitan bagi militer Israel.

Menyinggung hubungan ISIS dengan Israel dan kekuatan Barat, Edward Snowden, mantan kontraktor Dinas Keamanan Nasional AS menyatakan, Dinas Intelijen AS (CIA), Inggris dan Israel terlibat dalam pembentukan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) dalam operasi militer Beehive atau Sarang Lebah. Snowden mengungkapkan bahwa ISIS dibentuk untuk melindungi Israel dan tujuan dari operasi Sarang Lebah adalah membentuk kelompok dengan slogan Islam yang akan merekrut individu radikal dari seluruh dunia serta mengarahkan senjatanya kepada negara-negara anti-Israel melalui ideologi Takfirinya. Menurut Snowden, pemimpin ISIS mendapat pelatihan secara ketat selama satu tahun di bawah bimbingan agen Mossad. Selama periode pelatihan ini, ia mendapat pendidikan militer dan retorika.

3ac51ac994b5665bd223ae7e7be95b47
Bukti lain hubungan antara Israel dan ISIS adalah pengiriman para teroris yang terluka ke bumi pendudukan Palestina serta kesediaan dokter Israel mengobati mereka. Setiap hari sejumlah teroris lalu lalang ke Palestina pendudukan baik melalui jalan darat maupun udara, sementara para dokter Israel mengerahkan segenap kemampuan serta fasilitas yang ada untuk memulihkan teroris yang terluka dan mengirimnya kembali ke medan perang di wilayah Muslim.

Baru-baru ini juga dirilis gambar video yang menunjukkan rumah sakit di padang pasir milik Israel dan cara penangangan dokter rezim Zionis mengobati para teroris yang terluka. Moshe Yaalon, menteri peperangan Israel kepada media rezim Zionis mengatakan, “Pihak-pihak yang berhasil menguasai perbatasan Israel dan Suriah akan mendapat bantuan dari Tel Aviv, dan Kami akan memberi mereka obat-obatan, makanan, susu bubuk dan selimut untuk musim dingin, dengan syarat mereka tidak akan membiarkan kelompok anti-Zionis mencapai perbatasan Kami.”

Sementara itu, aksi teror yang terjadi di Irak, Suriah, Mesir dan sejumlah negara Arab lainnya membuat perhatian terhadap program Israel di kawasan dan kejahatan rezim Zionis Israel kepada warga Palestina di Jalur Gaza di perang musim panas tahun 2014 yang menggugurkan lebih dari 2000 warga sipil dan menciderai ribuan lainnya terseret ke arah kelompok teroris Takfiri khususnya ISIS.

Bahkan pembantaian yang dilakukan ISIS berubah menjadi alasan untuk menutupi dan menjustifikasi pembunuhan yang dilakukan rezim Zionis Israel. Avichay Adraee, juru bicara militer israel seraya merilis laporan jumlah korban di pihak umat Muslim di kawasan Timur Tengah mengungkapkan, selama 10 tahun terakhir, bagian Israel dalam masalah ini kurang dari 10 persen dan sisanya adalah akibat pembunuhan sesama saudara Muslim serta dilakukan oleh Muslim Salafi Takfiri dan pengklaim pengikut murni sunnah Nabi. Padahal semua pihak mendakwa Tel Aviv sebagai pembantai umat Islam.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gerakan radikalisme teroris bagi musuh-musuh Islam memiliki sejumlah manfaat. Washington juga merasa bahwa identitas dan budaya asli Islam sebagai faktor penghambat terbesar bagi negara ini untuk meraih ambisi dan kepentingannya di Timur Tengah. Kini Washington menganggap bahwa serangan ISIS terhadap struktur nilai-nilai ideologi agama di kawasan sebagai usaha untuk membantuk kepentingannya. AS juga menilai kelompok teroris Takfiri sebagai bagian dari strategi Washington di kawasan, sehingga dengan mereka, Amerika dapat mencitrakan wajah buruk dan kekerasan Islam kepada dunia. Selanjutnya setelah Muslim kawasan menyaksikan Islam radikal yang diusung kelompok teroris, maka mereka akan merevisi ideologinya dan pada akhirnya Timur Tengah sepenuhnya akan sesuai dengan nilai-nilai Amerika.

Jelas bahwa kekerasan yang dikobarkan oleh ISIS bersama seluruh kelompok Takfiri lainnya termasuk Front al-Nusra adalah interpretasi Islam yang diinginkan oleh Amerika. Interpretasi yang dimaksudkan untuk menyempurnakan pencitraan negatif Islam dan terus digalakkan sejak insiden 11 September hingga kini. Saat itu, AS mulai mengumumkan perang anti terorisme dan peristiwa yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari wacana tersebut.

Amerika pun kemudian mencanangkan program untuk memperlemah atau membuat negara-negara di kawasan bergantung kepadanya dengan merusak infrastruktur negara yang diserang dengan alasan menumpas terorisme. Sejatinya AS telah menciptakan krisis ekonomi dan sosial di negara-negara tersebut. Tujuan lain AS dari gerakan merusak ini adalah memusnahkan iklim Kebangkitan Islam dan konvergensi mazhab serta negara-negara Islam di kawasan melalui pengobaran friksi dan perang sektarian.

Pada akhirnya AS dengan dalih perang melawan terorisme dan pembentukan koalisi regional, ingin menancapkan pengaruh dan keberadaan militernya lebih lama di kawasan. Ini adalah tujuan yang diinginkan Amerika demi kepentingan politik, militer dan ekonominya di kawasan. Dalam proses ini, AS menebarkan propaganda Iranphobia dan Syiahphobia secara bersamaan dan berusaha memperdalam jurang pemisah antar-etnis dan perpecahan ideologi Syiah-Sunni di kawasan. [SFA] 

1 Comment

1 Comment

  1. Shiar Islam

    November 14, 2015 at 5:51 pm

    ISLAM adalah Rahmatan lil alamin (Rahmat bagi seluruh alam). A;-Quran dan sunnah Nabi SAW melarang ummat Islam didalam perjuangannya membunuh anak-anak , kaum wanita orang tua jompo yang tidak terlibat dalam aksi meliter. Malah kia dilarang merusak tempat suci lainnya. Rasulallah SAW memiliki akhlak yang mulia dan sedia memaafkan musuhnya. ISIS dan al-Qaeda sanggup menyembelih.membakar ummat Islam yang belum tentu bersalah. ISIS dan al-Qaeda sanggup membunuh alim ulama yang telah banyak jasanya terhadap Islam dan tidak menghargai tepat pemakaman mereka. ISIS dan al-Qaedah menggunakan nama Rasulallah SAW sebagai alat mengelabui mata ummat Islam, sedangkan amal perbuatan mereka sangat bertentangan dengan al-Quran dan Sunna Nabi SAW. Oleh karena itu kewajiban kta untuk memusnahkan ISIS dan al-Qaedah yang berhati Iblis dan berjiwa Syeithan, hingga keakar-akarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: