Artikel

Takfirisme-Wahabisme Ideologi Gelap Para Teroris

03 Februari 2016,

SALAFYNEWS.COM, TIMUR TENGAH – ISIS atau Daesh/ISIS saat ini sedang dalam usaha mereka untuk menambahkan bab lain dalam lembaran buku kejahatannya, demi memperpanjang riwayat kekejaman dan Ideologi pembasmian Timur Tengah yang mereka anut. Bencana militer maupun kanker dogmatis yang mereka bawa telah menjadi wabah berbahaya bagi dunia, karena para militan Daesh/ISIS ini hanya memahami keyakinan dan agama sebagai kekejaman, pertumpahan darah, penindasan dan kejahatan maksimal. (Baca: Wahabi Sekte Pembawa Bencana dan Pencipta Teroris)

Dan meskipun teror mengerikan mereka sembunyikan dengan memakai jubah Islam, mereka membuat alasan palsu bahwa hanya ulama merekalah yang membawa tradisi sejati Nabi terakhir dari Allah, Daesh/ISIS pada hakikatnya bukanlah apapun kecuali hanya kepalsuan. Kepalsuan yang telah berulang kali ditolak oleh semua ulama Islam karena bertentangan dengan inti agama.

Keyakinan Islam yang pluralis tidak dapat diklaim oleh mereka yang berdiri menentang prinsip-prinsip inti dalam agama tersebut seperti Daesh/ISIS. Maka kunci untuk memahami (dan memerangi) Daesh/ISIS adalah dengan mengkaji fondasi ideologinya yaitu Takfirisme, sebuah dasar dari munculnya Ideologi Wahabi yang bangkit dan menjadi ada. (Baca: Rais ‘Aam PBNU; Wahabi, Salafy, ISIS Ngaku-Ngaku Ahlusunnah)

Definisi Takfirisme adalah sebagai berikut “Menyatakan bahwa orang lain itu adalah orang yang tidak beriman (kafir) atau tidak lagi Muslim (murtad)”. Takfiri di era modern ini juga digunakan sebagai sanksi kekerasan terhadap para pemimpin negara-negara Islam yang dianggap kurang religius. Takfirisme telah menjadi pusat ideologi kelompok-kelompok militan sebagaimana yang ada di Mesir, yang mencerminkan ide-ide Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab, nenek moyang dari Wahhabisme, menurut kantor berita Shafaqna (30/01).

Prinsip-prinsip berbahaya dari Takfiri ini sudah sejak lama ditolak oleh kedua belah pihak baik Sunni maupun Syiah karena paham itu berdasar pada fanatisme.

Takfirisme sendiri adalah praktek yang sudah ada berabad-abad lalu. Praktek yang menilai seseorang sebagai kafir atau murtad, atau munafik melalui pandangan paling dogmatis. Hausnya kaum takfiri ini akan kekuasaan menjadikan mereka memanfaatkan pandangan takfirinya untuk melegitimasi ketidakadilan yang mereka lakukan dan mendelegitimasi orang yang tidak setuju dengan kewenangan mereka akan hal itu.

“ISIS/Takfiri adalah teman dari Setan dan Iblis, musuh-musuh Allah dan Rasulnya, paling terdepan dalam hal syirik, kemunafikan dan kemurtadan, maka tidak ada seorang muslimpun yang harus mendukung mereka dalam bentuk atau kebiasaan apapun”, ungkap Dr John Andrew Morrow, seorang penulis dan cendekiawan Islam terkemuka, dalam artikel yang dipublikasikan pada November 2015. (Baca: Wahabi Takfiri Proklamirkan Agama Pertumpahan Darah, Bukan Islam)

Dalam kerangka Takfiri, Daesh/ISIS dibenarkan untuk melakukan pembasmian ideologi Aswaja (Sunni), Kurdi, Yazidi, Syiah, Sufi, dan siapa saja yang tidak sesuai dengan tirani agama mereka. Daesh/ISIS menggunakan Takfirisme untuk mencapai tujuannya membersihkan kawasan dari “elemen-elemen najis” (dalam ideologi Daesh/ISIS) seperti Kristen, dan simbol-simbol agama lainnya, misalkan makam para nabi dan para waliyullah seperti makam Nabi Muhammad dan makam keluarga nabi di Mekkah dan Madinah, makam Nabi Yunus AS.

Takfirisme yang berubah menjadi ideologi kekerasan yang sudah ada pada akhir abad ketujuh dengan wujud kaum Khawarij, kelompok ekstremis awal yang menolak umat Islam yang tidak mau menerima cara pandang politik dan agama seperti mereka. Dikenal dengan sikap puritanisme dan fanatisme mereka, kelompok ini terlibat dalam kampanye pelecehan dan teror. Namun kekerasan ekstremisme kaum Khawarij ‘tidak berlangsung lama, karena sikap antitesis terhadap Islam ini segera diberhentikan oleh para ulama independen dan otoritatif (pemimpin agama dan ulama) pada waktu itu. (Baca: WASPADALAH.. Pengajian ‘Setan’ Kelompok Khilafah HTI dan Wahabi)

Saat ini, takfirisme telah menemukan kehidupan baru dalam struktur monarki Teluk kontemporer (Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain). Negara-negara Teluk itu menggunakan takfirisme untuk menghilangkan lawan-lawan politik dan masyarakat yang rentan, termasuk minoritas agama dan perempuan. Mereka melegitimasi takfirisme modern mereka dengan mengkooptasi otoritas keagamaan, fabrikasi teks-teks agama, dan menyebarkan interpretasi selektif dan aplikasi Islam dengan mendirikan sekolah-sekolah dan mendanai siapapun yang mau mengajarkan narasi Islam literal dan absolut mereka.

Interpretasi beragam dan paling prinsip dalam Al-Qur’an, hadits, dan jutaan ilmu lain yang ditulis mengenai teologi, filsafat, dan yurisprudensi akhirnya tergerus menjadi semacam bisikan saja. Jantung/inti Al-Qur’an yang berupa keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang – menjadi catatan kaki yang tidak menyenangkan karena semua itu bertentangan dengan agenda takfirisme mereka. Sebaliknya, doktrin keras dari takfirisme gencar dipromosikan sebagai sarana untuk memperkuat kekuasaan, dan membuat permainan ganda dengan berpura-pura menyajikan retorika anti-Barat padahal melayani negara-negara Barat. (Baca: Ulama Palestina: Wahabi Ajaran ‘Setan’ dan Bukan Islam)

Sekarang, negara-negara ini memegang kesepakatan untuk mengendalikan politik dan agama dengan bulat. Hasilnya adalah sebuah aliansi antar negara dengan ulama-ulama bayaran bersama dan berintegarsi dengan ulama independen otoritatif, akibatnya menyebabkan munculnya kelompok-kelompok seperti Daesh/ISIS.

Perlu ditambahkan bahwa legitimasi mereka dengan penggunaan istilah “jihad” ini adalah untuk mengklasifikasikan kelompok-kelompok ekstremis yang suka dengan kekerasan. Istilah salah ini digunakan untuk melayani kepentingan kelompok-kelompok seperti Daesh/ISIS karena mereka membingkai diri mereka dalam konsep-konsep Islam yang fundamental itu untuk merekrut anggota

Ketika kelompok-kelompok seperti ISIS bersembunyi dalam jubah religius jihad, maka orang-orang Islam yang masih rentan dan tidak sepenuhnya memahami agama akan melihat hal itu (kekejaman ISIS) sebagai sesuatu yang sah. Ideologi kekerasan mereka, yang dibungkus hukum Islam atau pemikiran politik palsu, adalah propaganda yang efektif. (Baca: Stop Sebut “Islam Itu Teroris”, Wahabi Teroris dan Bukan Islam)

Pendidikan, serta pengenalan sunnah-sunnah Islam yang sejati akan sangat bermanfaat dalam menentang munculnya teror ini, karena tanpa senjatanya itu (pemalsuan Islam) Takfirisme tidak bisa bertahan. (ARN)

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Serangan Bom Turki dan Saudi Atas Suku Kurdi Tewaskan Dua Anak Kecil | SALAFY NEWS

  2. Pingback: Teroris ISIS Rekrut Anak-anak Untuk Ciptakan Monster Baru Yang Sadis Dan Ganas | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: