Internasional

Tel Aviv Akui Jual Senjata kepada Negara-negara Pelanggar HAM

Jum’at, 24 Juni 2016,

SALAFYNEWS.COM, TEL AVIV – Kepala badan kontrol ekspor pertahanan di Kementerian Pertahanan Badan Pengendalian Ekspor, Dubi Lavi, mengakui bahwa Tel Aviv mengekspor senjata ke negara-negara non-demokratis, negara-negara yang sering melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan pemusnahan etnis.

Pejabat Israel itu mengatakan kepada Haaretz bahwa “kami megakui ada beberapa negara non-demokratis yang telah kami ekspor senjata kepada mereka”. (Baca: Kelompok-Kelompok Teroris Gunakan Senjata Buatan Israel)

Sejumlah pernyataan Lavi itu datang setelah surat kabar Israel “Haaretz” mengungkap,  berdasarkan data yang dirilis oleh Departemen Keamanan, bahwa beberapa senjata buatan Israel telah dijual melalui para pedagang senjata Israel di negara-negara dimana genosida sedang dilakukan. Dalam statistik resmi yang dirilis oleh kementerian ditemukan bahwa 176 perusahaan Israel melanggar aturan Security Export Control pada tahun 2015, sementara pada tahun 2014 berjumlah 166.

Dalam semua pelanggaran yang terjadi, pihak berwenang hanya mengenakan denda sebesar 700 ribu dolar pada tahun 2015, dan 500 ribu dolar pada tahun 2014. Tapi, denda tersebut sangatlah kecil jika dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari ekspor senjata dan menjualnya, terutama karena izin ekspor tidak ditarik dalam semua kasus, yang berarti bahwa kementerian melalui cara tertentu atau cara lain sengaja mendorong para pedagang untuk terus mengekspor senjata.

Menurut data resmi yang dirilis oleh surat kabar Ibrani itu, berdasarkan pada Kementerian Pertahanan Israel, selain ke selatan Sudan, Israel telah mengekspor senjata dan peralatan keamanan untuk 130 negara, termasuk Rwanda, Azerbaijan, Kamerun, Togo, Guinea Khatulistiwa, Nigeria, Chile, Argentina, Filipina, Bosnia, Kolombia, Guatemala, Brasil, Liberia, Pantai Gading serta Eritrea. (Baca: Laporan DK PBB; Senjata Israel Digunakan Dalam Perang Sipil Sudan Selatan)

Seorang analis untuk urusan strategis di surat kabar “Maariv”, Yossi Melman, berpendapat bahwa tujuan Israel di balik penjualan senjata itu adalah untuk mencapai keuntungan dan membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Dunia Ketiga. Menurutnya, 10 persen dari perdagangan senjata di dunia dikuasai oleh Israel, ia menunjukkan bahwa Israel meraup keuntungan finansial yang sangat-sangat besar dari transaksi senjata, mereka tidak menerima bahaya signifikan yang dihasilkan dari transaksi tersebut setelah mengetahui sejauh mana hubungan mereka dengan rezim otoriter yang melanggar hak asasi manusia scara terang-terangan.

Ia menambahkan bahwa Tel Aviv lebih memilih untuk menandatangani transaksi penjualan senjata ke berbagai negara di Afrika dan Amerika Latin secara tidak langsung, melalui perantara sejumlah perusahaan swasta yang mencapai sekitar 220 perusahaan sebagai bentuk upaya untuk pembebasan tanggung jawab atas terjadinya penggunaan senjata itu dalam kejahatan terhadap kemanusiaan. (Baca: Tentara Suriah Sita Sejumlah Senjata Buatan Israel)

Salah satu anggota di Knesset, dari gerakan kiri “Meretz”, Tamar Zandberg, menjelaskan bahwa Israel telah menjual sejumlah besar senjata ke Negara selatan Sudan dan memberinya sejumlah pengalaman keamanan, meski Kementerian Luar Negeri mengetahui dengan baik terjadinya  perang saudara di negeri tersebut, dimana terjadi pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan penyebaran kejahatan perang, dan ternyata dalam banyak kasus ditemukan bahwa senjata yang digunakan untuk itu adalah dari produksi Israel, katanya kepada surat kabar Haaretz. (SFA)

Sumber : Raialyoum

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: