Editorial

Upaya Monarki Saudi “beli Fakta berita” Kuasai Media Dunia

Salafynews.com – “The Saudi Cables” yang dipublikasikan oleh  WikiLeaks  pada Jum’at  19 Juni 2015  lalu dan berisikan berbagai dokumen yang berhasil diretas dari Kementrian Luar Negeri Saudi berhasil menjadi pusat perhatian dunia. Masyarakat dunia dengan gamblang bisa mengakses data-data super rahasia milik Dinasti al-Saud yang beberapa diantaranya berisi fakta-fakta mengenai borok kerajaan itu.

Diantara dokumen-dokumen tersebut terungkap upaya besar-besaran Saudi Arabia untuk mengontrol dan mengkooptasi (mengambil-alih) media-media Arab dan dunia.

wikileaks

Wikileaks

WikiLeaks menyatakan bahwa  kerajaan  mengambil pendekatan sistematis untuk menciptakan citra positif negara dalam kancah internasional. Klaim itu juga menambahkan bahwa Riyadh mengontrol citranya  dengan cara mengawasi media dan “membeli” kesetiaan mereka mulai dari Australia hingga Kanada dan seluruh wilayah diantaranya.

The Saudi Cables melalui perilisan dokumen-dokumen Kemenlu Saudi, mengungkap adanya upaya-upaya ekstensif untuk memantau dan mengkooptasi media, guna memastikan pembenaran pada setiap penyimpangan yang dilakukan Saudi di wilayah regionalnya.

“Strategi Saudi Arabia untuk mengkooptasi media Arab memiliki dua cara, yaitu dengan melakukan korespondensi melalui pendekatan menggunakan “wortel dan tongkat”, yang dalam dokumen disebut sebagai  “netralisasi” dan “putupan fakta”. Pendekatan itu disesuaikan dengan pasar dan media terkait,” demikian bunyi pernyataan wikileaks.

Sebagai contoh dua pendekatan tersebut adalah, fakta bahwa Saudi membayar ribuan subskripsi  untuk berbagai media  yang diinginkan, yang secara politik setia pada kerajaan.

Dalam data WikiLeaks satu dokumen menunjukkan permintaan pembaruan kesepakatan subskripsi (pemuatan berita di media) tertanggal 1 Januari 2010, meliputi media-media di Damaskus, Abu Dhabi, Beirut, Amman, Kuwait dan Nouakchott. Jumlah dana yang diminta bersifat  acak, terdiri dari sekitar 500 dolar hingga 9.750 dinar Kuwait (33.000 dolar Amerika).

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa suap yang diberikan tergantung dari seberapa parah skandal yang dilakukan negara.

“Kisaran dana mulai dari jumlah yang kecil namun vital yaitu sekitar 2000 dolar pertahun  untuk media-media negara berkembang (Kantor Berita Guinea yang “memiliki keperluan mendesak”  menyebut bahwa dana Saudi akan mampu memecahkan banyak masalah yang dihadapi Kantor Berita itu) hingga jumlahnya jutaan dolar seperti dalam contoh kasus stasiun tv sayap kanan Libanon, MTv.

Penggunaan media untuk kepentingan politik Saudi juga tercermin melalui  surat kawat yang dirilis WikiLeaks dimana surat itu menunjukkan bahwa intellijen Saudi dan kedutaan besar Saudi di Teheran  menyarankan pemerintah al-Saud untuk memanfaatkan  situasi dengan memprovokasi masa pada pemilu Iran di tahun 2009. Dokumen itu menulis dengan jelas bahwa sangat mungkin untuk menggunakan internet dan media sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya untuk menebar kebohongan soal ketidak puasan masyarakat terhadap pemerintahan disana.

Dokumen itu juga menunjukkan rencana penggunaan anggota – anggota oposisi Iran di luar negeri dengan cara, merangkul, mendekati dan mengajak para oposan itu untuk berkoordinasi. Oposisi ini juga harus didorong untuk mengorganisir “pameran”  yang akan menggambarkan penyiksaan yang dilakukan pemerintahan Iran kepada rakyatnya dan rakyat negara-negara lain di kawasan.

Kepentingan Saudi dilindungi oleh uang yang dialirkan ke media-media dunia guna terus menutupi penyimpangannya. WikiLeaks mencatat bahwa kerajaan telah melakukan 100 pemenggalan terhadap para tahanannya di tahun ini namun media internasional terkesan mendiamkan hal keji ini begitu saja, sebuah hal yang mungkin tidak akan terjadi jika pemenggalan tersebut dilakukan negara lain.

“Bagaimana hal seperti ini berlangsung tanpa  diketahui?” ungkap WikiLeaks dalam  pernyataannya. (WikiLeaks, 19 Juni). Alasannya tentu saja terletak pada  berbagai pendekatan kesepakatan  terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pemantauan dan  kooptasi media- media Arab, serta menggunakan sumber-sumber pengaruh lain.

Tekhnik Netralisasi dan penutupan fakta yang digunakan Saudi dilakukan dengan cara  membatasi jangkauan dan cakupan ruang lingkup media serta mendorong outlet-outlet media untuk menutupi fakta, maka  harus mencegah tersebarnya fakta sebenarnya. “Penutupan fakta” ini melibatkan pendekatan langsung melalui konsilidasi kepada Riyadh dan melawan  persepsi anti-Saudi.

Sebuah contoh lain dari tekhnik diatas terbukti dari sebuah surat kawat yang berisi catatan mengenai perhatian khusus Kerajaan Saudi terhadap sikap Maroko, dimana catatan itu menunjukkan keberatan kerajaan terhadap sikap Media Today’s News Maroko yang memuat berita bagaimana sejumlah kerajaan Arab teluk tidak menyukai keterbukaan negara itu (Maroko) terhadap kebangkitan Arab.

Maroko

https://www.wikileaks.org/saudi-cables/doc124688.html

Tekhnik pembelian subskripsi (pemuatan di media cetak) yang secara efektif memuat pemberitaan yang sesuai keinginan Riyadh, membuat Riyadh berdiri sebagai investor de facto yang mengharapkan balas budi setimpal dengan cara yang tepat dan menguntungkan. Sebelumnya juga telah disebutkan bahwa dalam data WikiLeaks satu dokumen menunjukkan permintaan pembaruan kesepakatan subskripsi  tertanggal 1 Januari 2010, meliputi media-media di Damaskus, Abu Dhabi, Beirut, Amman, Kuwait dan Nouakchott.

“Kerajaan secara efektif membeli “saham” pemutar-balikan fakta  pemberitaan dari  outlet-outlet media untuk Saudi,  uang Saudi juga secara efektif mengalir kearah sebaliknya, yaitu dari pemegang saham (Saudi) ke outlet media. Imbalannya, Saudi Arabia mendapatkan dividen (keuntungan)  politik, yakni sebuah obligasi pers.

Dan ketika sebuah obligasi pers tidak bisa diraih, maka tekhnik lain pun dilaksanakan. Dekrit kerajaan pada 20 Januari 2010, menginspirasi Menlu Saudi untuk menghapuskan Kantor Berita Iran, Al-Alam dari Arabsat, operator utama satelit komunikasi Riyadh. Gagal melakukan hal itu, maka upaya meminimalisir jangkauan sinyal pun dilakukan.

Dalam ranah kebijakan yang lebih luas, terdapat dokumen-dokumen yang meliputi kecurigaan berkepanjangaan kerajaan wahabi itu kepada Republik Iran. Sebuah  persaingan yang dianggap melewati batas antara Riyadh dan Teheran yang mencakup berbagai hal, terutama pada masalah nuklir Iran. Sebuah catatan pada tahun 2012 dari kedutaan Arab Saudi di Teheran dalam dokumen yang dirilis WikiLeaks, berbicara tentang “pesan merayu Amerika” yang dibawa ke Iran melalui mediator Turki yang tak disebut namanya sebagaimana dilansir Associated Press pada 19 Juni.

Dokumen-dokumen Saudi yang dibocorkan oleh WikiLeaks secara tersirat menunjukkan kecemasan luar biasa yang dirasakan oleh kerajaan Saudi Arabia terhadap segala sesuatu yang dianggap bisa menjadi ancaman terhadap paham totaliter pihak kerajaan. Perlakuan Rezim Saudi yang berupa penentangan terhadap peristiwa-peristiwa yang menandai kebangkitan Arab ( Arab Spring) menerima perhatian mengejutkan yang luar biasa dari masyarakat dunia dan menimbulkan gelombang anti-Saudi bermunculan dimana-mana.

Dengan hilangnya kontrol otoriter maka opini publik dianggap sebagai sesuatu yang harus diarahkan oleh kerajaan, bukan dibentuk oleh publik itu sendiri.  Dan hal itulah yang berusaha diraih Kerajaan Saudi Arabia melalui berbagai strategi penguasaan media guna memerangi kecenderungan revolusioner yang berlawanan dengan kepentingan Saudi baik  di dalam kerajaan  maupun di negara-negara di kawasan.  (SFA/LM/Wikileaks)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: King Salman & Obama Bersekongkol di White House | SalafyNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: