Editorial

Wahabi dan Radikalisme dua Saudara Kembar

Salafynews.com, JAKARTA – Permasalahan Wahabiyah. Didalam kelompok Wahabi banyak sekali ungkapan-ungkapan kebencian dan penyesatan yang sangat luar biasa. Diantaranya mudah mengkafirkan dan membid’ahkan orang lain tanpa kompromi. Artinya belum pernah dibuka sebuah diskusi yang baik, akan tetapi mereka dibalik keputusan dan fatwa-fatwa mereka menyesatkan.

Seringkali mereka mengkafirkan. Mereka mengaku Ahlussunnah Wal Jama’ah padahal manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah adalah manhaj Tahqiq, tidak akan mudah mengkafirkan atau membid’ahkan, tidak seperti itu. Dari sisi itu, sering menyesatkan. Kalau kita rinci maka akan membutuhkan pembahasan yang panjang, dan bukan disini tempatnya. Itu harus dibahas khusus.

Jadi dikelompok Wahabiyah, mereka itu sesat karena mereka mudah menyesatkan dan mengkafirkan orang lain. Dan masalah ini adalah, kita juga pernah melakukan obrolan beberapa dari mereka, mereka tetap mengukuhkan bahwa tawassul syirik, bid’ah dan sebagainya. Padahal sudah dijelaskan gamblang, waktu didepan kita juga ngangguk-ngangguk, tapi setelah keluar masih saja. Artinya menunjukkan bahwa didalam aqidah mereka itu mudah mengkafirkan. Bukan masalah tawassul saja, itu salah satu contoh.

Dengan kekakuan mereka para pengikut wahabi ini maka timbullah rasa Intoleran mereka terhadap kelompok yang tidak se jalan dengannya, maka timbullah rasa paling benar sendiri, tanpa mereka sadari bahwa merekalah yang sesat dan menimbulkan masalah-masalah baru di tengah umat, antara lain mereka seringkali melakukan tabligh akbar di beberapa masjid, dengan dalih mau “meng-Islam kan orang Islam”, orang Islam kok mau di Islamkan lagi itu tidak masuk akal dan amat aneh sekali, karena wahabi ini baru muncul kok mau mengakuisisi madzhab yang lain yang jauh lebih dulu ada dan memang ada sejak zaman dulu.

wahhabism-zionism-dajjalAkibat masifnya tabligh mereka para wahabi ini akhirnya berdampak kepada pembentukan negara Islam yang ingin mereka wujudkan, maka muncullah gerakan politik PKS, HTI dan lain-lain. Dengan agenda mereka ingin bentuk negara Khilafah maka akan timbul permasalahan baru yaitu mengganggu negara yang tidak berasaskan dasar Islam, contoh di Indonesia yang berasaskan Pancasila, mereka anggap Pancasila itu tidak benar dan salah, menurut mereka yang benar berasaskan Islam. Pertanyaannya adalah apakah Pancasila bertentangan dengan Islam ??? Pancasila yang dibuat oleh para pendiri Indonesia di godok oleh para tokoh agama Islam juga, jadi sila-sila yang ada di Pancasil itu masih banyak mencerminkan “Islam” yang universal. Baca HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI

Ketidak taatan mereka kepada pemimpin, yang negaranya tidak berasakan Islam maka mereka menimbulkan gejolak-gejolak anti pati sama pemerintah yang dianggap Thagut oleh wahabi, terjadilah makar-makar terselubung mereka dengan cara pemberitaan di media dengan menyudutkan pemerintah, membuat Chaos negara dengan Isu Sektarian dan lain-lain.

Maka timbullah gerakan Radikalisme, gerakan itu sudah masuk ke tubuh pemerintahan, institusi kepolisian dan beberapa tempat-tempat strategis yang lain.

Baru-baru ini Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Adnan Anwar mensinyalir radikalisme sudah menjalar ke kalangan selebriti dan profesional.

“Ini berbahaya dan bisa dibilang mengerikan. Dari data-data yang ada, mereka sudah menyasar beberapa pihak yang punya banyak simpatisan atau penggemar seperti artis,” kata Adnan di Jakarta, Rabu.

Menurut Adnan, gerakan pengusung radikalisme juga membidik kalangan menengah seperti pegawai negeri, aparat TNI, Polri, bahkan petugas Lembaga Pemasyarakat.

“Ini fakta yang tidak bisa dibantah, sehingga harus ada gerakan nyata untuk melawan mereka. Saya khawatir bila dibiarkan seperti ini, artinya pemerintah tidak menyiapkan instrumen hukum yang pasti, kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini bakal terancam,” katanya.

PBNU sendiri tidak pernah berhenti untuk membendung dan melawan gerakan radikalisme, namun diakui Adnan apa yang dilakukan PBNU tidak cukup bila tak didukung pemerintah dan berbagai organisasi kemasyarakatan lain.
“Masalah ini sangat krusial, karena dipicu kondisi bangsa Indonesia yang belum stabil,” katanya.

Adnan mengakui mobilisasi propaganda di kalangan menengah saat ini sangat kuat, termasuk melalui media sosial, sehingga agak sulit untuk membendung pergerakan mereka.

“Ada profesor, doktor, insinyur, bahkan jurnalis. Merekalah yang justru paling berbahaya. Kalau martir-martirnya mudah diatasi,” kata dia.

Adnan berharap pemerintah segera membuat instrumen hukum pasti terkait gerakan radikalisme itu, apalagi ada kelompok yang ingin meruntuhkan NKRI dan mendirikan negara baru.

“Bayangkan, saat ini ada organisasi yang jelas-jelas ingin mendirikan negara sendiri masih bisa bebas menggelar kegiatannya,” kata dia.

Sementara itu, mantan aktivis Jamaah Islamiyah (JI) Abdurrahman Ayub meminta pemerintah menerapkan cara-cara pemberantasan radikalisme dan terorisme seperti cara-cara yang digunakan pada zaman Orde Baru.

Stop Radikalisme“Di zaman Orde Baru, pelaku terorisme, seperti saya waktu itu, tidak bisa hidup dan tidur nyenyak di Indonesia. Alhasil kami harus hijrah ke negara lain, seperti Malaysia, Pakistan, dan Afganistan. Bagaimana kami tidak pergi, saat itu, RT atau RW bisa menjadi intel sehingga tidak ada ruang bagi terorisme untuk menjalankan kegiatannya,” kata dia.

Artinya, lanjut mantan pimpinan JI Australia ini, gerakan radikalisme tidak bisa diberi sedikit ruang untuk berkembang. Apalagi teknologi sekarang semakin canggih.

“Bayangkan, Aman Abdurrahman bisa dibaiat oleh pimpinan ISIS Abubakar Al Baghdadi hanya melalui kecanggihan alat telekomunikasi. Intinya, dibandingkan dulu, pemberantasan paham radikalisme harus lebih keras dan signifikan,” katanya.

Dan gerakan ini sama persis seperti gerakan-gerakan yang terjadi di Timur Tengah, di Suriah, Yaman, Iraq, Muslimin di hadapkan pada masalah isu sektarian, mereka anti nasionalisme baca HTI Anggap Nasionalisme itu Sebagai Jahiliah Modern, sehingga para muslimin tidak sempat melihat dan memantau gerakan-gerakan Radikal ini, dan para pelaku gerakan Ini ciri-cirinya amat jelas dan sama di semua negara, ciri identik mereka adalah Berjenggot lebat, berpakaian ala Arab dengan baju-baju gamis dan celana cingkrang, itu ciri fisik dan nyata, sedangkan ciri-ciri yang tidak tampak nya adalah mereka suka mengkafir-kafirkan orang lain, suka membid’ahkan ajaran orang lain, suka memberitakan berita-berita yang tidak ada bahkan mengada-adakan, dan mereka amat membanggakan kerajaan Saudi Arabia yang dianggap oleh mereka sebagai negara Khilafahnya Baca Wahabi Hidup dari Dana Arab Saudi, Untuk Porak Porandakan Kerukunan Beragama. Dan yang paling penting adalah mereka amat sangat kejam sekali dalam tindakannya kepada orang yang tidak sejalan dengan mereka baca Darimana Asal Usul Kebengisan Ajaran Salafy Wahabi?. Maka kita sebagai warga negara Indonesia mewaspadai dari gerakan-gerakan Wahabi dan radikalisme dua saudara kembar yang amat sangat berbahaya buat kelanggengan NKRI kita tercinta Ini. (SFA/Muslimedia/Antara)

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Jokowi “Khalifah” Nusantara, HTI Merana | Arrahmah News

  2. Pingback: GAWAT.. BNPT Endus Banyak Sel Terorisme di Batam | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: