Artikel

Wahabi Takfiri Proklamirkan Agama Pertumpahan Darah, Bukan Islam

12 Januari 2016

JAKARTA, SALAFYNEWS.COM – Kelompok-kelompok teroris takfiri dan Zionis harus disalahkan atas eskalasi kekerasan, eksterirsme dan sektarianisme yang terus berkembang di dunia, karena mereka para Takfiri bukanlah pengikut agama ilahi. (Baca: Website Sarkub Bongkar Kepalsuan Wahabi Palsukan Kitab Aswaja)

“Semua agama samawi meyakini perdamaian, keamanan dan stabilitas sementara Takfiri dan Zionis berusaha untuk menghasut perang dan menghasut kekerasan, ekstremisme dan sektarianisme”.

Islam adalah agama persatuan, perdamaian, keamanan dan persaudaraan tetapi Islam yang diproklamirkan oleh Wahabi dan Takfiri adalah pertumpahan darah , ekstremisme dan terorisme.

Di mana pun orang-orang Muslim yang mengalami penindasan, termasuk di Suriah, Yaman dan Irak, merupakan akibat dari ekstrim-nya ideologi Wahabi, maka tugas kita adalah membela mereka yang tertindas.

Pemerintah yang berkolusi dengan AS dan rezim Israel terhadap negara-negara Muslim, tidak memiliki tempat di dalam Islam. Karena telah terukir dalam memori sejarah bahwa mereka adalah para pencipta teroris Takfiri dan yang memberi dukungan untuk melakukan berbagai kejahatan, yang akan membuat kaum muslimin semakin terpuruk dan hancur. (Baca: NU Target Utama Takfiri)

ISIS-Indonesia

Lihatlah, Suriah yang telah dilanda militansi yang didukung asing sejak 2011, di mana lebih dari 260.000 orang tewas, dan jutaan orang lainnya telah mengungsi.

Lihatlah, Yaman yang terus dibombardir oleh Saudi Wahabi sejak 10 bulan lalu, yang telah menewaskan lebih dari 7.411 orang, dan kebanyakan dari korban tewas itu adalah anak-anak dan perempuan.

Lihatlah, Irak, Libya dan Mesir yang telah dicengkram oleh aksi-aksi terorisme yang menamankan diri mereka ISIS, dan telah menewaskan ribuan orang tak berdosa.

Dan lihatlah serangkaian aksi terorisme di Indonesia. Siapa mereka? apa ideologi mereka? apakah sulit mengetahui dan mengindentifikasi ideologi radikal yang mereka anut? apakah masih bisa mereka yang telah melakukan berbagai kejahatan disebut sebagai Islam? (Baca: Ulama Palestina: Wahabi Ajaran ‘Setan’ dan Bukan Islam)

Berikut adalah beberapa aksi terorisme yang pernah terjadi di Indonesia yang telah merenggut nyawa ratusan korban;

1. Ternyata pada tanggal 28 Maret 1981, Garuda Indonesia pernah diserang oleh teroris. Dalam perjalanan menuju Medan setelah transit di Palembang dari penerbangan Jakarta, pesawat ini dibajak oleh 5 orang bersenjata yang mengaku sebagai angota Komando Jihad. 3 Teroris tersebut mengaku sebagai bagian dari penumpang pesawat Garuda Indonesia. Aksi ini mengakibatkan 1 orang kru pesawat tewas, 1 orang penumpang tewas, dan 3 orang teroris tewas.

2. Lima tahun kemudian, tepatnya 21 Januari 1985, aksi terorisme dengan motif “jihad” kembali terjadi. Kali ini menimpa salah satu tempat keajaiban dunia yang ada di Yogyakarta, Candi Borobudur.

3. Pada tahun 2000, ada empat aksi teror yang pernah terjadi. 1 Agustus 2000, sebuah bom meledakkan Kedubes Filipina. Akibat peristiwa ini 2 orang tewas serta 21 orang luka-luka termasuk di dalamnya Duta Besar Filipina untuk Indonesia, Leonides T. Canay dan kerusakan mobil-mobil yang terparkir di lokasi sekitar.

27 Agustus 2000, bom kembali menimpa kedutaan. Kedutaan kali ini yang menjadi sasaran adalah Malaysia. Beruntung bom yang meledak di kompleks Kedubes Malaysia ini tidak memakan korban.

13 September 2000, bom kembali terjadi di Gedung Bursa Efek Jakarta tepatnya di lantai parkir P2. 100 korban berjatuhan, 10 diantaranya tewas dan ratusan mobil rusak parah.

24 Desember 2000, bom ini tepat diledakkan di beberapa kota di Indonesia yang sedang merayakan malam Natal. Ketika itu 16 orang tewas, 96 orang terluka, dan 37 unit mobil rusak.

4. Kembali, empat aksi terorisme terjadi di tahun berikutnya. Tiga diantaranya tidak ada korban jiwa. Yang pertama yaitu bom yang diledakkan di Gereja Santa Anna dan HKBP pada 22 Juli 2001. Nyawa lima orang pun menjadi korban dalam pemboman ini.

Yang kedua adalah bom yang meledakkan kawasan Plaza Atrium Senen pada 23 September 2001. Beruntung tidak ada korban jiwa melainkan hanya ada 6 orang yang luka ringan.

Yang ketiga adalah bom restoran cepat saji, KFC Makasar pada tanggal 12 Oktober 2001. Kembali tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Yang keempat adalah bom yang terjadi di halaman sekolah AIS (Australian International School) pada 6 November 2001. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

5. Setahun kemudian, ada tiga aksi terorisme yang terjadi. Bom pertama terjadi di malam tahun baru, 1 Januari 2002. Bom ini meledak di kawasan Bulungan, Jakarta tepatnya di salah satu rumah makan.Empat bom kembali meledak di berbagai gereja di Palu, Sulawesi Tengah dan beruntung tidak ada korban jiwa. Bom kedua dikenal dengan Bom Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 dan sempat menjadi headlines news di berbagai negara.

Ada tiga ledakan yang terjadi dan menyebabkan korban tewas sejumlah 202 orang dan 300 orang luka-luka. Sebagian besar warga yang menjadi korban adalah warga Australia. Bom ketiga meledakkan sebuah restoran cepat saji, McDonald’s Makasar pada 5 Desember 2002. Walaupun korban yang berjatuhan tidak banyak dalam kasus ini, yaitu 11 orang luka-luka dan 3 lainnya lagi tewas, namun tetap saja peristiwa ini menimbulkan kenangan pahit bagi keluarga yang ditinggalkan.

6. Tiga bom kembali terjadi di tahun 2003. Bom yang pertama terjadi pada 3 Februari 2003 di lobi Bhayangkari Mabes Polri Jakarta.

Bom yang kedua terjadi pada 27 April 2003 di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Peristiwa ini memakan 10 korban, 2 diantaranya luka berat dan sisanya hanya mengalami luka ringan.

Bom yang ketiga terjadi pada 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriott. Dan memakan korban tewas berjumlah puluhan dan ratusan lebih orang lainnya menderita luka-luka.

7. Pada tahun 2004, ada tiga pemboman yang terjadi. Pemboman pertama dikenal dengan nama Bom Palopo yang terjadi pada 10 Januari 2004. Ada empat orang yang tewas dalam peristiwa ini.

Pemboman kedua dikenal dengan Bom Kedubes Australia yang terjadi pada 9 September 2004. Ada 5 orang yang tewas, ratusan orang luka-luka, dan beberapa gedung di sekitar yang ikut kena dampaknya. Pemboman ketiga dikenal dengan Bom Gereja Immanuel di Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004.

8. Lima bom kembali meledak di tahun 2005. Pada tanggal 21 Maret ada dua bom yang meledak di kota Ambon dan beruntung tidak ada korban jiwa. Pada tanggal 28 Mei, ada 22 orang yang tewas dalam pemboman yang dikenal dengan Bom Tentena.

Pada 8 Juni, bom meledak di Pamulang. Kali ini yang menjadi korban adalah kediaman Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril. Tidak ada korban jiwa dalam pemboman ini. Pada tanggal 1 Oktober, bom kembali mengguncang Bali. Dalam peristiwa ini, 22 orang tewas dan 102 orang luka-luka. Pada tanggal 31 Desember, sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah menjadi sasaran dan mengakibatkan 8 orang tewas dan 45 orang luka-luka.

9. Empat tahun kemudian tepatnya tahun 2009, dua bom diledakkan secara bersamaan di Jakarta tepatnya JW Marriott dan Ritz-Carlton.

10. Dua tahun kemudian, 2011, tiga bom meledak di tiga kota di Indonesia. Kota pertama adalah Cirebon dimana sebuah bom bunuh diri diledakkan di Masjid Malporesta pada 15 April 2011. Peristiwa ini menewaskan pelaku pemboman dan melukai 25 orang.

Kota kedua adalah Tangerang dimana polisi berhasil menggagalkan aksi pemboman terhadap Gereja Christ Cathedral. Kota berikutnya adalah Solo. Sebuah bom bunuh diri kembali diledakkan di GBIS Kepunten, Solo, Jawa Tengah. Satu orang pelaku tewas dalam peristiwa ini sedangkan 28 orang lainnya terluka. Tidak ada korban jiwa dalam pemboman yang terjadi di Pospam Gladak, Solo, Jawa Tengah pada 19 Agustus 2012. Namun aksi ini tetap membuat rakyat semakin was-was. (Baca: Stop Sebut “Islam Itu Teroris”, Wahabi Teroris dan Bukan Islam)

Ada begitu banyak peristiwa aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, namun dari kejadian tersebut kita belajar untuk selalu mewaspadai gerakan-gerakan Wahabi Takfiri yang selalu mengkafirkan sana-sini, dan menghalalkan berbagai cara untuk meraih tujuan mereka dalam mendirikan khilafah. (Baca: Agus Sunyoto; Wahabi Singkirkan Wali Songo)

Keberadaan kelompok militan Negara Islam atau disebut ISIS di Suriah dan Irak dapat menjadi tempat pelatihan bagi gelombang lahirnya para pelaku peledakan bom di Indonesia, kata ahli terorisme Sidney Jones.

“Kalau ada orang yang punya pengalaman di Suriah bisa kembali ke Indonesia, dia bisa jadi pemimpin dengan kredibilitas yang baru, dengan keterampilan yang lebih tinggi, dengan komitmen ideologi yang lebih mendalam,” kata Sidney Jones. (Baca: Sidney Jones: Pergerakan ISIS di Indonesia)

Pimpinan Institute for Policy Analysis of Conflict ini juga mengatakan, warga Indonesia pendukung ISIS yang baru kembali dari Suriah “bisa betul-betul menghidupkan dan melatih sel-sel teroris yang masih ada di Indonesia dan itu sangat berbahaya”. Arab-Saudi-Teroris

Langkah Apa Yang Harus Kita Ambil?

Dalam beberapa note yang saya tulis terkait terorisme dan radikalisme saya selalu menegaskan bahwa penanganan terorisme dan radikalisme yang bukan dari akarnya tak akan mampu memutus mata rantai terorisme dan radikalisme.  Karena memerangi terorisme dan radikalisme bukan dari akarnya, semisal dengan membentuk densus 88 itu, tak ubahnya pohon berduri yang membahayakan kemudian hanya memotong duri-durinya saja dan membiarkan akarnya tetap hidup. Tentu suatu saat akar itu akan menumbuhkan duri-duri kembali. Berbeda dengan ketika akarnya telah mati maka duri terorisme dan radikalisme pun tak akan tumbuh kembali. Namun bukan berarti penanganan semacam itu mutlak tak diperlukan, bahkan harus disinergikan dengan penanganan yang lebih efisien. Lantas apa akar terorisme dan radikalisme yang berkedok agama itu? Dan bagaimana membunuhnya?

Akarnya banyak dan kadang sulit terbaca. Salah satunya adalah ideologi dan doktrin keliru yang telah mencuci otak para teroris dan radikalis sehingga hal keliru dianggap  benar, pembunuhan dianggap jihad. Akhirnya, mereka pun tak segan-segan melakukan perbuatan bodoh berupa teror dan radikal meskipun harus menghilangkan nyawa sendiri. Ironisnya, ideologi itu dengan sangat mudahnya mereka dapatkan dari para pengasongnya dengan cuma-cuma, bahkan sengaja dipaksakan tertanam dalam otak mereka. Bisa secara oral, melalui kitab (baca-buku), media, dan yang paling gencar adalah melalui internet. Jika akarnya adalah ideologi tentu logis jika teroris dan radikalis terus merajalela meskipun telah berulangkali ditangkapi dan dibunuhi. Karena yang terbunuh hanyalah raga semata sementara ideologinya tetap bergentayangan. Dan, untuk membunuh ideologi kita memerlukan pisau ideologi lain yang lebih tajam. (Baca: Tuhan, Nabi, Khulafaurrosyidin Tak Perintahkan Buat Negara Khilafah)

Tesis bahwa akar terorisme dan radikalisme adalah ideologi dan doktrin bisa dibenarkan oleh pengakuan para pelaku teror dan radikal itu sendiri. Dalam beberapa aksinya mereka mengaku bahwa apa yang mereka lakukan adalah berjihad di jalan Allah yang mereka pahami dari teks-teks al-Qur’an dan Sunnah yang  diinterpretasikan secara ngawur dan serampangan. Sebagai sample simaklah penjelasan salah satu  mantan anggota Jama’ah Islamiyah (JI) Nasir Abbas yang juga mengetahui cara membuat bom, pada Sabtu (17/3/2012) bahwa “di samping motif psikologis, aksi teror juga didorong motif ideologis, terutama tentang pentingnya aksi jihad. Mereka mendasarkan diri pada sejumlah ‘ayat perang’ yang secara permukaan memang potensial disalahgunakan.” Jika demikian maka interpretasi teks-teks keagamaan memiliki peran signifikan.

Konsisten dengan tesis di atas bahwa akar terorisme dan radikalisme  yang mengatasnamakan agama adalah ideologi dan doktrin keagamaan yang dideviasi. Ideologi dan doktrin itu diperoleh dari pengasongnya; ada kalanya secara oral, melalui buku, dan media baik cetak maupun online (internet) dll. Oleh sebab akarnya bermotif ideologis dan doktrinal keagamaan serta penyebaranya yang melalui berbagai macam cara tersebut maka untuk mengatasinya juga memerlukan berbagai macam cara dan melibatkan banyak peran dari berbagai pihak terkait; para ulama yang akan menginterpretasikan teks-teks keagamaan secara toleran dan moderat, percetakan dan penerbit, insan media baik cetak maupun online dll. Masing-masing bergerak di medan ahlinya dan saling bersinergi sehingga memancarkan kekuatan yang integral dan paripurna. (Baca: Lecehkan Pancasila! HTI Pro Khilafah Digeruduk Warga dan Ormas)

Tanpa mensinergikan elemen-elemen tersebut maka pembasmian terorisme dan radikalisme dari akarnya akan sulit terwujud, atau bahkan mustahil!. Pihak media saja tak cukup. Karena segencar apapun usaha mereka—bekerja sama dengan para pakar, misalkan–untuk mem-balance dan memurnikan media dari paham terorisme dan radikalisme maka tak akan menuai hasil signifikan ketika di satu sisi para pengasongnya juga terus gencar mengasongkanya, terlebih jika lebih gencar. Di sinilah peran ulama sangat dibutuhkan, yakni untuk menghambat arus terorisme dan radikalisme agar tak terlalu deras mengalir ke media, semisal dengan fatwa kolektifnya dst.

Sementara di sisi yang lain jerih payah ulama kurang berarti tanpa bantuan media. Karena tanpa media fatwa dan pemikiran moderat dan toleran mereka akan terkungkung di ruang sempit. Media lah yang akan membumikan fatwa dan pemikiran moderat serta toleran mereka ke penjuru dunia; media sebagai corong ulama. Ketika media dan ulama telah bersinergi maka hasil memuaskan masih jauh didapatkan ketika pihak penerbit dan percetakan ditinggalkan. Sebab buku adalah salah satu jalur utama yang dilintasi paham terorisme dan radikalisme untuk mencari korbanya. Maka untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tak ada cara lain kecuali harus mensinergikan mereka dan pihak lain yang terkait. (SFA/AB)

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Takfirisme-Wahabisme Ideologi Gelap Para Teroris | SALAFY NEWS

  2. Pingback: Gereja Koptik Kairo Liburkan Seluruh Kegiatan Rohani Karena Ancaman Teror dari Teroris | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: