Opini

Wajah Teror di Setiap Agama

wirathu-226x300

Salafynews.com – Konflik Rohingya seolah memunculkan imaji baru tentang teror. Bila sejak peristiwa 911 wajah teror selalu diidentikkan dengan Islam, kini wajah Budha yang biasanya identik dengan kedamaian tiba-tiba tercoreng.

Kalau kita jujur membaca sejarah, sebenarnya aksi teror merupakan arang hitam yang mencoreng semua agama. Di masa kekhalifahan Islam, siapa yang bisa menyangkal catatan sejarah tentang khalifah-khalifah yang berlumuran darah untuk menaklukkan berbagai wilayah atau berseteru di antara sesama mereka? Pembantaian paling sadis yang terus dikenang oleh sebagian umat Islam hingga kini adalah pembantaian terhadap Husain bin Ali beserta 72 orang sahabatnya oleh Khalifah Yazid bin Muawiyah. Kepala-kepala korban dipenggal dan ditancapkan di tombak lalu diarak dari Karbala (Irak) hingga ke Damaskus. Di masa imperium Ottoman yang hingga kini masih dijadikan model oleh para pengusung Khilafah, aksi-aksi kekerasan atas nama agama juga terjadi. Salah satunya, Hamidian Massacre tahun 1894-1896 yaitu pembantaian bangsa Armenia oleh Sultan Hamid II. Perkiraan jumlah orang Armenia yang tewas antara 80.000 sampai 300.000.

Catatan sejarah kaum Nasrani juga tidak bisa menghapus kenyataan kelam bahwa gereja juga pernah berlumuran darah. Salah satunya Pembantaian St. Batholomew tahun 1572. Selama tiga hari umat Protestan diburu oleh umat Katolik di seluruh kota, hampir 4.000 orang tewas. Perburuan terhadap Protestan berlanjut ke kota-kota lain sehingga total korban mencapai puluhan ribu. Dan apa tanggapan Paus Gregorius XIII atas pembantaian ini? Catatan sejarah menyebut, “Kabar tentang aksi berdarah itu diterima dengan amat sukacita oleh Paus di Vatikan. Kardinal dari Lorraine, utusan yang membawa berita ini ke Roma, dihadiahi seribu keping emas. Paus menyatakan bahwa ‘Hati Raja telah mendapatkan inspirasi dari Allah ketika ia memerintahkan pembantaian itu.’. ”

Menyusul kekalahan Bizantium di tangan Imperium Turki-Seljuk pada 1071, Kaisar Bizantium, Alexius I, meminta bantuan dari Paus Urban II. Paus segera menyeru kaum Nasrani, untuk bergabung dalam Perang Suci (crusade/Perang Salib) untuk membebaskan Yerusalem yang sedang dikuasai kaum Muslim.

Kata-kata Paus Urban waktu itu membawa-bawa narasi agama namun bercampur dengan aspek ekonomi: “Karena tanah ini, yang kalian huni, yang di semua sisi ditutupi oleh laut dan dikelilingi oleh puncak gunung, terlalu sempit untuk populasi kalian yang banyak; juga tidak berlimpah kekayaan, dan tidak cukup memberikan hasil pangan… Tanah Palestina penuh dengan susu dan madu, bagaikan surga… Pergilah kalian menuju Makam Suci, ambillah tanah itu dari orang-orang jahat dan jadikan itu tanahmu sendiri! ” Pasukan Salib menyambut pidato ini dengan seruan, “Dieu le veult!” (Tuhan menghendakinya!).

Berabad-abad kemudian, pembantaian atas nama agama terus terjadi silih bergantii. Pada 16 September 2001 (hanya 5 hari pasca 9-11), President AS, George W. Bush sesumbar, “Kita telah diperingatkan. Kita telah diperingatkan tentang adanya orang-orang jahat (evil people) di dunia ini. …Pemerintah Anda selalu waspada ..bahwa orang-orang jahat masih berkeliaran di luar sana. …Kami akan membersihkan dunia ini dari para pelaku kejahatan. … Perang Salib ini (this crusade), perang melawan terorisme ini akan memakan waktu dan bangsa Amerika harus bersabar…”

Perhatikan bahwa Bush menggunakan kata ‘crusade’ dalam pidatonya itu. Dan sebagaimana Perang Salib abad ke-11, Perang Salib ala Bush (yang dilanjutkan hingga kini oleh Obama) juga membantai jutaan kaum Muslim di Irak, Afghanistan, Pakistan, Libya, Sudan, Yaman, Somalia, dan Mali, serta memback-up “Perang Melawan Terorisme” yang dilakukan pemerintah lokal di berbagai negara, antara termasuk Indonesia.

Sementara itu, pembantaian massal terhadap kaum Nasrani oleh Khalifah Turki, diulangi lagi dengan kebrutalan yang sama oleh pasukan yang mengaku sebagai pengusung khilafah: ISIS. Dengan membawa-bawa bendera hitam bertulis syahadat dengan bangga mereka tontonkan kepada dunia aksi-aksi pembunuhan dengan cara primitif yang menjijikkan.

Bagaimana dengan agama-agama lain? Bentrokan di Gujarat 2002 yang menewaskan sekitar 2000 kaum muslimin, misalnya, menunjukkan ‘wajah teror’ dari kaum Hindu. Pembantaian yang dilakukan kaum nasionalis Hindu terhadap komunitas Muslim di Assam dan Andhra Pradesh, itu dipicu oleh pernyataan Gubernur Gujarat Narendra Modi dalam sebuah pidatonya yang menghasut kebencian terhadap muslim. Pidatonya itu sontak memicu kerusuhan dan kekerasan terhadap kaum Muslim.

Aksi Modi ‘bermanfaat’ bagi partainya, Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berhaluan hindu nasionalis. BJP kerap menampilkan muslim sebagai musuh laten berbahaya agar para pemilih Hindu di India mencari perlindungan kepada partai ini. Hasilnya, kini karir Modi melesat menjadi Perdana Menteri India.

Dan saat ini, Xenophobia ekstrim melanda penganut Budha yang (biasanya) selalu menampilkan wajah welas asih dan mendamba hidup penuh ketenangan seperti Sang Budha Gautama yang mendapat pencerahan dibawah sebatang pohon. Adalah Ashin Wirathu, Biksu Buddha, yang memimpin gerakan 969 sejak 2001 melawan kaum Muslim yang disebutnya ‘anjing gila’. “Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti dikutip Washington Post.

Dari sejarah, kita tahu bahwa radikalisme adalah milik semua isme dan agama. Bibit itu disemai dengan menanam kebencian. Ini adalah penyakit umat manusia. Ibarat seorang sakit, umat manusia harus mau mengakui bahwa ini adalah penyakit kita bersama. Dan bersama pula kita menyembuhkannya. Karena jika kita masih tak mengakui ini penyakit kita, sampai akhir zaman yang kita lakukan hanya hujat- menghujat dan perang yang tak berkesudahan. Agama bukanlah sumber dari perang dan penindasan. Kebencianlah sumbernya; yaitu kebencian yang dikapitalisasi demi mengeruk kekayaan dan kekuasaan. Seperti kata Tiberias, salah satu perwira Perang Salib, “I have given Jerusalem my whole life. First, I thought we were fighting for God. Then I realized we were fighting for wealth and land. I was ashamed.” (jb)

 

Sumber: www.ic-mes.org – Khairun Fajri Arief (Peneliti ICMES)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: