Internasional

Wawancara Eksklusif Kakek dari Inggris Yang Ikut Perang Lawan ISIS

Salafynews.com, MOSUL – Televisi berita milik Rusia, Russian Today telah melakukan wawancara dengan Jim Atherton, kakek asal Inggris yang telah bergabung dengan kelompok anti-ISIS. Wawancara tersebut dimuat dalam lamannya Sabtu (15/8) kemarin.

Jim Atherton, Kakek tersebut, telah menjual harta bendanya demi untuk bisa bergabung dengan milisi Kristen yang disebut dengan “The Sacrificers”. Ia telah terlibat dalam empat kali pertempuran selama tiga bulan keberadaannya di Irak.

Jim Atherton jim

Jim Atherton, 53 tahun, seorang pengemudi truk selama 20 tahun, dan memiliki dua cucu itu tidak memiliki pelatihan  militer formal. Ia memutuskan untuk melawan ISIS setelah melihat propaganda kekejaman kelompok  teror tersebut melalui berbagai laporan media.

Saat ini, sebuah milisi relawan kristen, yang disebut Dwekh Nawsha atau “The Sacrificers (Yang Berkorban)”  menawarinya dan relawan Eropa, Amerika dan Australia lainnya, sebuah kesempatan untuk melakukan tugas mereka.

“Ada  warga Inggris dan Amerika yang bertaruh nyawa  dengan datang sebagai  tentara dan terbunuh… saya sendiri telah kehilangan adik laki-laki di Afghanistan pada tahun 2006,” kisahnya dalam wawancaranya dengan RT. Atherton mengaku tidak mengerti bagaimana bisa para warga asing dewasa seperti dirinya bisa diyakinkan untuk mau ikut berperang besama ‘Daesh’ atau yang lebih dikenal dengan ISIS.

“Saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hal itu, selain untuk membunuh, pembunuhan…Saya rasa mereka menggunakan agama hanya sebagai alasan.”

Atherton telah menunjukkan dedikasinya dengan membiayai dirinya sendiri antara lain dengan menjual mobil, motor dan perahunya. Hal ini membantunya untuk mengumpukan 18.000 poundsterling, untuk melakukan perjalanan menuju Irak dan membeli senjata, pakaian serta amunisi yang ia perlukan.

Senjata yang ia beli berharga sekitar 3.000 poundsterling, termasuk senapan serbu AK-47, senapan, dan sebuah pistol Glock.

Petualangannya membawanya dari Newcastle ke Amsterdam. Kemudian ke Turki, dan dari sana pergi ke Erbil di Irak. Kemudian ia menuju Dohuk, sebelah utara Mosul, dimana markas Dwekh Nawsha berada.

Kelompok itu saat ini tengah berusaha melindungi warga kristen di sekitarnya. Ayah dari tiga anak itu mengaku telah melihat empat kali pertempuran hanya dalam waktu tiga bulan ia berada disana.

Atherton juga mengungkapkan kerinduannya terhadap keluarganya dan berharap dapat kembali dalam keadaan hidup.

“Saya hanya berharap bahwa ketika semua ini berakhir, saya bisa kembali pulang dan melihat mereka lagi”. (SFA/LM/RT)

1 Comment

1 Comment

  1. Habib Hasan Alatas

    April 14, 2016 at 5:05 pm

    Zionis Israel merasa gembira karena Raja Badui dari Najd telah menyerang Yaman dan ramai rakyat Yaman yang terkorban, ramai masjid dan Hospital telah musnah binasa dan ramai anak -anak yang menjadi Yatim piatu semua ini akibat kegilaan Raja Badui dari Najd yang hauskan darah dan kuasa sesama Muslim di Yaman. Meskipun demikian raja baduwi ini telah gagal menguasai Yaman karena Rakyat Yaman yang gagah berani mempertahankan tanah air mereka dengan segala kekuatan yang ada. Saudi kini gelisah karena nafsu gilanya tak berjaya. Semoga Rakyat Yaman terus berjuang dan semua kita perlu membantunya supaya nafsu syetan dan iblis yang menguasai Raja Baduwi dapat terus dimusnahkan untuk selama-lamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: