Nasional

Yusuf Muhammad: Ketika Buruh Jadi Alat Kampanye dan “Musuhi Pemerintah”

Kamis, 29 September 2016,

SALAFYNEWS.COM, SURABAYA – Saya tertawa ketika melihat para demonstran buruh yang menolak UU “Tax Amnesty”.

Kita tahu bahwa serikat pekerja buruh dinaungi oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang di ketuai oleh Said Iqbal (SI). Sekedar info SI adalah mantan calon legeslatif (Caleg) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk DPR RI dari Dapil Kepri nomor urut 2 yang gagal total saat itu. Kita juga tahu bahwa fraksi PKS di DPR adalah yang termasuk sering menolak kebijakan Tax Amnesty (TA). (Baca: Yusuf Muhammad: Tax Amnesty ‘Neraka’ Bagi Singapura)

Nah, tentu tidak aneh jika pada saat moment demo tersebut disusupi kepentingan politik untuk menolak UU TA dan ‘memusuhi’ pemerintah. Saya telah mempelajari, bahwa di belahan dunia manapun rasanya belum ada sarikat buruh yang demo tentang penolakan TA kecuali hanya di Indonesia. Aneh tapi nyata, itulah sebagian buruh yang ada di negeri kita.

Coba pikir dengan nalar dan akal sehat, apa relevansinya para buruh demo menolak TA? Tidak ada!

Lucunya lagi demo tersebut juga diwarnai dengan kampanye negatif. Menjelang pemilukada DKI tentu tidak aneh jika para buruh juga sering dijadikan sebagai alat untuk memuaskan nafsu politik para cecunguk dan elit di partai politik. Lihatlah para buruh yang demo melakukan penolakan terhadap Ahok, berbagai isu negatif digulirkan hanya untuk menjatuhkan seorang Ahok. (Baca: Yusuf Muhammad: Kesuksesan Tax Amnesty Bukti Kerja Keras Pemerintahan Jokowi)

Para buruh pun seakan dibodohi dan hanya dijadikan sebagai alat pemuas nafsu politik serta ‘Sapi Perah’ bagi SI dan golonganya.

Cara-cara mereka sebenarnya sangat mudah ditebak. Cara usang yang memalukan dan murahan, dimana rakyat kecil selalu dijadikan alat untuk kepentingan politik dan menpatkan kekuasaan. Perlu dicatat bahwa untuk melawan Ahok itu bukan dengan cara demo murahan, tapi dengan prestasi, ide dan gagasan.

Demo penolakan UU TA juga adalah suatu bentuk pelemahan akal dalam berfikir. Bukankah melalui UU TA negara justru akan mendapatan pajak besar dari para Wajib Pajak (WP) yang selama ini telah hilang?

Coba bayangkan kalau hasil dari penerimaan pajak tinggi, tentu hal itu akan baik bagi negara. Karena hasil dari penerimaan pajak tersebut akan disalurkan kembali untuk kepentingan rakyat. Seperti disalurkan pada sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, industru, penambahan lapangan kerja dll.

Menolak TA berarti menolak dana luar negeri masuk ke dalam negeri dan itu tentu akan menghambat ruang fiskal serta “capital inflow” yang dapat mendongkrak perekonomian dan dunia usaha. Nah, bisa dibayangkan kalau dunia usaha dan perekonomian terhambat, siapa yang rugi? Saat itu PHK akan jadi ancaman besar, dan para buruh lah yang akan dirugikan sementara SI akan tetap tersenyum lebar sambil berkata, “rasain lu yang penting gua aman”.

Saat ini SI masih membutuhkan buruh sebagai alat politiknya, terlebih adanya dana dari setoran per anggota KSPI sebesar 1% dari UMP para buruh di seluruh daerah di Indonesia yang sayang jika tidakk dimanfaatkan. Dari data tercatat bahwa ada sekitar dana 1,7 milyar/bulan dan tentu itu lumayan jika dapat dimanfaatkan oleh SI sebagai modal politiknya. (Baca: Denny Siregar: Gilanya Tax Amnesty)

Bayangkan aja setiap bulan ada dana sekitar 1,7 milyar dan transparansinya tidak jelas, penggunaan anggaran juga tidak jelas dan rawan untuk diselewengkan. Makanya SI akan tetap tersenyum lebar, sedangkan para buruh cuma jadi ‘sapi perah’ yang terus dibodohi.

Jika sebelumnya rata-rata kenaikan UMP masih dibawah 10%, sedangkan pada masa Jokowi sudah mencapai lebih dari 44%. Dari data tersebut dapat dilihat, pada era Jokowi kenaikan UMP nya tertinggi sepanjang sejarah. Nah, dari itu juga dapat dilihat bahwa semakin tinggi UMP buruh maka smakin besar setorannya ke KSPI yang di ketuai oleh SI. Saat ini tujuan politik SI belum tercapai sepenuhnya, jika sudah tercapai mungkin para buruh akan ‘ditendang’.

Wahai saudaraku kaum buruh, coba tanyakan digunakan untuk apa saja uang setoran kalian. Jangan mau dijadikan alat politik dan ‘Sapi Perah’ terus terusan. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Yusuf Muhammad

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: